Saya berasal dari kampung Wawondula, di Distrik Nuha, di Pulau Sulawesi. Tempat kediaman kami cukup tinggi, dan cukup dingin. Malam2 kami gulung tikar lalu masuk kedalamnya supaya jangan kedinginan. Suku kami dikatakan MORI SELATAN. Ada Mori Bawah, Mori Atas, dan Mori Selatan. Istilah TOMORI sebenarnya berarti ORANG MORI. Bahasa yang kami gunakan adalah Bahasa Padoe. Di daerah kami, setiap 15-20 kilometer sudah bedah bahasanya. Namun demikian, bahasa2 sekitar kami kurang-lebih bersamaan, sehingga kami lain dapat mengerti lain dalam hal2 sederhana. Tapi dalam rumpun Mori Selatan pun ada juga Karongsixe, Tambe, dll. Kampung kami (Wawondula) berada di Distrik Nuha, yang terdiri dari 24 desa--ada yang Kristen, ada juga yang Islam. Toraja jauh sekali dari kami--mungkin beberapa ratus kilometer. Sedangkan di Kandari orang pakai Bahasa Tolaki, yang mirip juga dengan bahasa kami. Menurut ceritera orang tuah, kami semua berasal dari Tomata. Dari sana ada yang ke Mori Bawah, ada yang ke Mori Selatan, ada yang ke Pendolo (Poso), dsb. Di daerah Tomata ada satu gunung--tidak tahu namanya--yang padanya katanya hidup manusia pertama. Pada zaman bapak saya punya bapak, namanya Bou, masih sedikit orang di daerah Wawondula. Di sana Bou berburu babi dan rusa. Isterinya bernama Wempino, kalau tidak salah. Ayah saya Damah, ibu saya Pehi. Yang merintis Kristen di kampung kami orang Menado dengan orang Belanda. Perekonomian waktu itu masih terlalu sulit bagi orang Padoe karena tidak mudah bertemu dengan pedagang2 Bugis di Waraxu. Waraxu ini sebenarnya tempat pertemuan dagang di mana orang2 Bugis dari Malili bertemu dengan orang2 Padoe dari pegunungan yang turun bawa damar, kopi, dan hasil2 hutan lainnya. Sekitar tahun 1910 atau 1920, ada seorang pegawai PU, asal Menado, dari Palopo, namanya Tuaranto. Ia melihat bahwa daerah antara Balambano dan Waraxu, sekitar jarak 15 kilometer, sekalipun terjal sekali, mungkin dapat dihubungkan, dan kalau dapat dihubungkan, ekonomi rakyat dapat dipermudahkan. Untuk membuat jalan itu, ia gantung badannya dengan tali kira2 20 meter dari atas turun ke bawah, lalu bongkar batu2 dengan linggis dan tandu2 (pickax). Setelah kerja berbulan2, akhirnya orang bisa lewat dengan jalan kaki. Kemudian, setelah dilebarkan lagi, kuda bisa lewat dengan membawa damar. Ada hari2 tertentu untuk pasar di Waraxu. Dari tempat kediaman kami, kalau berjalan kaki, sekitar dua hari baru sampai di Waraxu. Masing2 laki2 dapat pikul sampai 35 atau 40 kilo damar. Setelah sampai di Waraxu, nanti mereka jual damar itu kepada haji2 Bugis di sana, misalnya Haji Junait, al Haji Hamid, dan Haji Mapa, yang semuanya datang dengan kuda atau berjalan kaki dari Malili dan Palopo. Kebetulan waktu ayah saya menjual damar itu, Haji Mapa yang membelihnya. Ah, terus pikir dia, "Wah! Kalau anak saya lahir, saya kasi nama Mapa, barangkali dia bisa kaya seperti Haji Mapa!" Kalau perempuan mau melahirkan, biasa suaminya membuat sebuah kamar kecil di dalam rumah untuk isteri dan anak yang mau dilahirkan itu. Kamar ini terbuat dengan rangka bambu yang padanya diikat tikar2 untuk menjadi dinding sementara. Di sana kalau orang melahirkan, panggil dukun bayi saja. Begitu saya lahir di gunung, mama saya dibantu dukun bayi saja. Orang lari2 panggil antara sebelah gunung sana dengan lembah sana, lewat sungai. Baru nanti dukun bayi datang, mama saya berlutut sambil memegang pada suatu pegangan--bukan tidur. Biasa kalau orang melahirkan di gunung2 ini, harus dibikin kamar khusus dari daun tikar. Tiang2 didirikan, kemudian dipasang daun2 tikar, semua diikat dengan rotan. Dan perempuan yang melahirkan diberikan jatah yang lebih bergisi. Mama saya melahirkan sebelas kali, tapi yang tidak meninggal hanya kami enam orang. Setiap mama saya melahirkan laki2, semua meninggal. Entah dalam dua tahun, entah dalam dua-tiga bulan. Ada empat saudara saya laki2, mati semua, jadi lima dengan saya. Jadi yang lain perempuan. Makanya sering kali kalau saya renungkan itu, kenapa saya hidup? Ah, mungkin karena untuk pelayanan pekerjaan Tuhan. Saya, Mapa Maleta, lahir di kebun, di Pegunungan Verbeg, di Gunung Palumba, di Tambununu, tanggal 10 Pebruari 1937. Kami minum susu mungkin cuma tidak sampai beberapa bulan, sebap sebentar lagi adik kami sudah lahir. Kami diberikan makan bubur, dan kesehatan kami tidak terlalu bagus. Ada yang sakit. Yang paling banyak, demam malaria. Banyak yang meninggal karena demam malaria. Tidak ada obat. Belakangan, setelah "merdeka", baru sering kali ada apa yang dinamakan "pel Bandung." Pel Bandung itu pahit. Anak2 lari kalau mau dikasi minum. Tetapi ada satu pohon di sana, namanya LINGARU. Kulitnya diambil, lalu ditumbuk menjadi bubuk, lalu diminum. Ubat ini membuat badan kita pahit, lalu nyamuk tidak senang. Ini supaya tidak sakit malaria. Saya waktu kecil sering kali harus minum itu. Saya kalau tidak mau dikasi obat, saya lari, ditangkap oleh Bapa: "Kau harus minum!" Waduh, saya sudah nangis, tapi saya minum saja! Ada penyakit lain, yaitu cacing. Kalau anak2 umur empat-lima tahun perutnya kelihatan besar, biasa anak itu kena sakit cacing (pinworm and/or roundworm infestation). Anak itu biasa tidak suka makan, suka menangis, dan mukanya pucat.Cacing ini biasa kami mengobati dengan getah buah papaya dicampur dengan gula merah. Kalau obat ini diminum, dalam beberapa jam banyak cacing akan keluar. Waktu itu belum terlalu Kristen. Masih agak campur dengan kepercayaan2 orang desa--dukun2 dsb. Mereka tinggal di kebun. Nanti hari Sabtubaru datang ke kampung ikut kebaktian malam. Besok lagi ada sekolah minggu. Setelah itu, sore2 orang sudah pada kembali lagi ke kebun. Jarak antara rumah2 kebun itu agak jauh. Biasa ada setengah kilometer satu rumah. Masing2 punya kebun, di mana mereka buat pondok. Juga mereka membuat rumah. Di sana mereka tinggal sampai dua-tiga tahun, kemudian pindah lagi, karena mereka berkebun pindah2. Rumah biasa bertiang duabelas. Tiang2 yang paling kuat terbuat dari kayu KULAHI, tapi untuk rumah kebun, yang akan ditinggalkan dalan sekitar dua tahun, sering digunakan kayu2 yang tidak sebegitu kuat. Lantai rumah berketinggian kira2 dua meter dari tanah. Lapisan atas lantai terbuat dari bambu jenis BALO BINASI dibelah kecil2 yang panjangnya sekitar 2.2 meter. Ini kemudian diikat diatas lapisan kedua, yakni rangka terbuat dari belahan kulit batang pinang MINAMA. Masing2 batang pinang dibelah enam, lalu belahan2nya diikat berjejer menjadi lapisan kedua lantai rumah. Semua ikatan lantai terbuat dari belahan2 rotan LA-URO. Tidak ada dinding yang membagi2 ruangan dalam rumah, tapi ada suatu batas penting yang membagi lantai rumah menjadi dua bahagian. Seperti tadi dikatakan, lapisan lantai bambu terbuat dari belahan2 yang berkepanjangan sekitar 2.2 meter. Lantai bahagian depan ruangan dalam rumah terbuat dari satu jejer belahan bambu, sedangkan bahagian belakang rumah, termasuk dapur, terbuat dari satu lagi jejer belahan bambu, lalu di antara dua bahagian ini ada sebuah kayu balok. Bahagian dapur dikatakan KOMBIA, sedangkan bahagian depan dikatakan ULU KOMBIA. Menurut adat, tidak boleh orang sembarang lewat batas kayu balok masuk ruangan kombia. Orang kalau dipersilahkan duduk tidak mungkin duduk di kombia kecuali keluarga. Adat ini cukup keras, sehingga walaupun tidak ada dinding dalam rumah, namun ada suatu batas yan tidak boleh sembarang dilewati. Di atas lantai rumah kemudian terbentang gulungan2 anyaman daun tikar yang padanya orang tidur. Daun tikar OMPEO hijau diambil dari hutan, dikeringkan, lalu dianyam tanpa diwarnakan. Tiap pagi tikar2 ini digulung dan disimpan pada loteng (attic) TONETE. Ada tangga naik ke lantai rumah. Ada yang terbuat dari dua tiang dengan anak2 tangga, tapi yang lebih mudah diambil saja sebatang kayu yang agak besar sedikit lalu dipotong2 tempat2 kaki padanya. Atap rumah terbuat dari daun rumbia. Bumbungan rumah mendatar lurus dengan kepanjangan sama dengan panjang rumah. Ada atap tambahan sedikit pada hujung2 rumah yang melindungi dinding rumah dari air hujan. Dinding rumah juga terbuat dari daun rumbia, tapi teranyam. Ada jendela2 yang dapat ditutup dan dibuka. Tutup jendela terbuat dari daun rumbia dengan rangka bambu. Waktu itu belum ada listrik ataupun minyak tanah. Hanya orang kaya2 yang bisa punya lampu minyak tanah. Kami hanya pakai dari damar saja. Damar dipanaskan, digulung, dibikin tinggi kira2 30 senti, dibungkus dengan pelepah pinang yang diikat bahagian bawahnya, lalu ditanam di dalam kotak2 kayu yang dinamakan DALIKA. Lampu2 dalika ini tidak mudah terbalik, dan dapat dipindah2kan ke mana2 di dalam rumah sesuai kebutuhan. Orang biasa ambil air dengan bambu dua ruas. Mereka bikin dapur di atas. Padi dikeringkan dengan asap, lalu setelah kering ditumbuk pakai alu dan lesung. Dapur terbuat di belakang satu batas lagi yang dikatakan TENGA. Di belakang TENGA, dan di bahagian tengah ruangan, tanah disusun sehingga mencapai ketebalan sekitar 30 sentimeter, lalu diatas dasar tanah inilah dikumpul api untuk masak makanan, dsb. Kemudian di sebelah kiri-kanan timbunan tanah ini ada tempat2 di mana orang bisa kincing atau berak. Ini diperbolehkan karena di bawah dapur ada kandang berisi babi, yang bisa makan tahi manusia. Begitu kotoran jatuh, langsung babi santap di bawah. Rumah2 seperti ini, tentu saja, tidak dibangunkan di kampung2, tapi hanya di kebun. Sekalipun kami semua tidur satu rumah, tidak pernah kami lihat orang tuah bersetubuh, dan tidak kami tahu bagaimana mereka melakukan hal itu. Waktu kami kecil, tidak ada anak2 yang pakai pakaian. Sampai kami mulai akil-balig baru kami sendiri mulai berusaha bagaimana mau bikin pakaian. Kami sudah mulai merasa malu, lalu kami mulai pakai cawat. Kami sendiri pergi ke hutan, potong kulit kayu WASA, pukul, jemur, rendam lagi, dsb. Sari2 kulit kayu wasa ini bersambung bagus, dan tidak mudah terpecah-belah. Kami cari yang tidak terlalu mudah dan tidak terlalu tuah, sebap kalau terlalu tuah, tidak bisa mengembang, sedangkan kalau terlalu mudah, gampang pecah. Kayunya ditebang, lalu kulitnya diambil ikut panjang kain yang dibutuhkan, entah 1.5 meter atau 1.75 meter. Kain ini nanti dilingkarkan jadi cawat. Jadi kulit kayu wasa ini kami bawa pulang, lalu kami mulai pukul2 dengan palu kayu keras pada pengalas kayu keras. Kayu keras yang kami gunakan ada beberapa macam, termasuk SOLOPIRI, LANGARA, dan KOMIA. Palunya bulat, panjang kira2 30 sentimeter, dan ada pegangannya. Tapi palunya harus diukir agar di antara permukaan2 yang memukul ada juga lobang2 yang padanya kulit kayu wasa tidak akan kena pukulan. Kayu pengalas bisa bulat, bisa rata, tapi tidak ada ukiran apa2 padanya. Dan sambil pukul2, harus ada air, supaya kulit kayu wasa itu mengemban dan menjadi halus. Makin lama dipukul, makin lembut dan halus nanti kulit kayunya. Kain kulit kayu hasil proses ini juga dikatakan WASA. Waktu saya berumur sembilan atau sepuluh tahun begitu, Bapak saya memelihara pohon2 damar milik Gae. Ada sekitar 30 pohon di hutan situ. Jadi kalau Bapak pergi untuk mengambil damar, saya ikut untuk mengambil sisa2nya. Saya pikul biasa delapan kilogram. O, sudah nangis saya di jalan! Nanti Bapak ambil delapan kilo itu, dipikul, saya jalan tanpa pikulan juga masih nangis karena capek berjalan cepat. Kami berjalan kira2 10 kilometer waktu itu. Tapi saya senang sekali kalau kami pergi, karena Bapak membawa bekal. Nasi dibungkus dengan pelepah pinang, dan ada sambalnya. Wah, kalau kami sudah berhenti di sungai La Motaha, nanti siang kami makan di sana, o, enak sekali itu nasi dengan sambalnya! Sambal itu terbuat dari SOLIKE (rias), semacam terasi sedikit, dan kemiri yang dibakar. Riasnya dirajak, terus ditumbuk. Wah, itu enak sekali! Damar saya itu nanti saya jual, kemudian saya belih gasing. Setelah itu mungkin belih buku, atau belih apa, begitu. Mau belih kain, tidak ada kain. Kami pakai cawat. Saya waktu belum sekolah ikut orang tuah saja, misalnya di kebun saya main2. Itu saja. Tidak ada pekerjaan. Setelah sekolah baru orang tuah berikan suatu jatah kerja. Waktu sudah masuk sekolah, Bapak berikan patok, supaya pulang dari sekolah, saya harus bersihkan rumput sampai dengan batas2 yang ditentukan oleh patok2. Kalau belum selesai, jangan pulang di rumah. Nanti tidak dikasi makan, dsb. Tapi kalau saya sudah nangis, sudah malam, sudah banyak nyamuk, saya tidak berani pulang ke rumah karena belum selesai, Bapak datang di kebun. "Kenapa ini belum selesai? Yah, sini, sini, sini!" Dia kerjakan sebentar saja--strak, strak, strak, strak--sudah selesai! Dia memang begitu2 saja. Tapi saya memang dilatih oleh Bapak untuk hidup semacam itu. Soal mulai masuk sekolah, saya disuruh pegang telinga. Kalau dengan tangan sebelah belum bisa pegang atas telinga sebelah melalui atas kepala, belum bisa masuk sekolah. Jaman Belanda kan begitu. Itu dulu aturan Belanda. Jadi kalau penerimaan sekolah, anak2 disuruh maju, dan guru lihat harus pegang telinga. Kalau tidak bisa, "Pulang! Nanti tahun depan baru kau masuk sekolah!" Jadi kira2 umur tujuh, delapan, atau sembilan waktu itu baru saya sekolah, sebap jarak antara rumah (kebun) dengan sekolah juga kira2 ada empat-lima kilometer. Saya musti berjalan kaki tiap hari pergi-pulang. Sekolah di Kampung Wawondula. Pagi2 saya sudah berangkat, dan rumput2 banyak embun, dan saya musti basah. Saya musti jalan, saya musti cepat2--sampai sana nanti lari2. Dan tidak boleh berbahasa daerah: harus Bahasa Indonesia. Seperti sekarang mau belajar Bahasa Inggeris sulit sekali, waktu itu saya berbahasa Indonesia. Biasanya untuk memilih tempat untuk membangunkan rumah, Bapak sudah biasa lihat tempat2 yang bagus, dan dia belajar juga sama binatang. Di sana biasa ada babi hutan bersarang. Tanahnya rata. Ah, di situlah dia bikin rumah. Tapi di sana kalau misalnya ada kebun jagung, padi, dsb., dibuat rumah sementara pada tanah miring. Sebelum panen biasa kan musti jaga kera yang datang ganggu tanaman, burung pipit yang datang serang padi, babi hutan yang datang malam2 makan jagung, dsb. Di tempat2 seperti itu biasa bikin rumah di tempat miring. Tapi untuk keluarga, pada waktu buka hutan, dia tahu ada tempat babi hutan biasa bersarang, di situlah dia bikin rumah. Di bawah rumah kami tidak ada rumput. Kami tidak menyapu, sebap rumah kami di atas. Di bawah, paling dibakar saja keliling. Biasanya juga di kiri-kanan sudah padi, jagung, ubi kayu, pisang, segala macam tanaman di bawah. Sebelum sekolah, saya bantu orang tuah, dan sering saya disuruh minta rokok pada tetangga. Dari situlah saya mulai berpikir, "Kalau saya nanti sudah besar, saya tidak mau merokok. Bikin susah anak saya nanti." Sebap saya merasa susah kalau sudah disuruh pergi minta rokok pada tetangga. Kalau sudah lewat pohon besar, saya kira ada setan di situ, saya LARI keras sekali. Nanti lewat sungai, saya LARI lagi. Saya kira ada setan di situ. Karena sungai mengalir, saya pikir ada setan yang alirkan. Jadi bunyinya itu jadikan saya takut sekali. Apalagi kalau ada pelangi. Katanya di pelangi itu ada setan turun mandi. O, saya tidak berani dekat2 kalau ada setan turun mandi di mata air! Apalagi nanti kalau sudah hujan, ada guntur! Sebap jarak antara rumah satu dengan yang lain jauh2. Itu juga pun siang, dan bukan malam. Kalau malam kami tidak bisa lewat situ kecuali pakai obor yang kami buat dari kulit kayu. Dan itu waktu juga Bapak punya kerbau. Nah kerbau ini biasa saya musti ikat, saya pindahkan, ... Pagi2 saya bawa untuk ikat dia makan rumput. Siang sedikit, saya bawa dia mandi. Saya bawa dekat air, dekat telaga atau dekat sungai, dia mandi. Nanti kalau sudah soreh saya bawa pulang, ada kandang biasanya untuk tidur malam. Lalu ada kalanya kerbau ini lepas. Wah, kalau lepas saya susah cari kemana2! Ah, itulah, kalau saya sudah sampai, misalnya, di tempat yang sepih, saya takut barangkali ada setan di sana! Orang waktu itu punya kerbau. Sapi kami belum punya waktu itu. Daerah kami tertutup, jadi daerah lain punya sapi, kami tidak punya. Daerah kami hanya punya kerbau. Jadi kalau orang bisa punya kerbau tiga-empat ekor, wah, sudah orang kaya itu! Tapi kalau tidak punya, wah, itu orang miskin. Kekayaan juga terhitung dari banyaknya pohon rumbia. Atau kalau orang punya lumbung padi yang isinya tidak dapat dimakan dalam setahun, orang itu dianggap orang kaya. Orang waktu itu kalau sudah sekolah sampai kelas dua atau kelas empat sudah dianggap cukup persekolahan. Bapak terlalu terikat dengan rokok itu. Dia tidak lepas. Tapi waktu sudah umur enam puluan, dia sudah tidak merokok lagi. Dia meninggal umur 74. Kalau diadakan pesta kawin, misalnya satu kampung ada 200-300 orang (50-60 kepala keluarga), diumumkan di gereja bahwa nanti tanggal anu ada pesta kawin--keluarga ini dan keluarga itu mau kawin--satu kampung orang berkumpul di situ untuk bikin pesta kawin. Ke gereja, lantas dari tuah2 adat memberi nasehat, lantas dari pengurus kampung memberi nasehat (termasuk kepala kampung, sekretarisnya, bendaharanya, lantas untuk tuah2 kampung juga lain lagi beberapa orang). Lantas dari gereja. Yang biasa memberi surat itulah dari gereja sama dari kepala desa. Pendeta dan kepala sekolah dulu sama. Ah, belakangan baru catatan sipil masuk. Waktu dulu tidak ada catatan sipil. Tidak ada orang punya surat kawin dulu. Pendeta dan kepala sekolah Wawondula dulu Pendeta Tanonggi, orang Sulawesi juga. Saya waktu kecil tidak pernah melihat orang Belanda. Yang saya lihat belakangan, waktu sudah sekolah, itu orang Jepang. Mereka pakai topi, rupanya terbuat dari kain, tapi tutup telinga, dan mereka dengan pakaian lengkap. Mereka seperti orang kejam, jadi kami takut sekali melihat mereka. Banyak orang ditangkap oleh mereka--diseret, dibawa. Begitu kami anak2 melihat mereka, kami lari ke gunung takut ditangkap. Anak2 takut sekali. Waktu itu juga mereka sudah mulai latih orang2 mudah rupanya untuk apa yang dikatakan "Heiho". Saya tidak tahu apa "Heiho" itu. Waktu saya mulai sekolah, Jepang masih ada, tapi sudah hampir pulang. Waktu itu masih ada beberapa bulan kami diberi pelajaran Bahasa Jepang. Saya waktu masuk sekolah, pakai celana. Kemudian saya pakai cawat. Kemudian waktu sudah mau selesai kelas tiga, saya pakai celana. Baju tidak ada. Waktu saya masuk kelas empat, sudah ada kain yang masuk di daerah kami. Di pengungsian juga ada pakaian dan makanan yang dikirim dari mana2. Setelah Jepang pulang, Westerling masuk dan membunuh sekitar 40,000 ribu orang di Sulawesi Selatan. Westerling dan tenteranya sudah datang untuk mau masuk Distrik Nuha, lalu dari kira2 24 kampung ada pemuda2 sudah berangkat mau menghadapi mereka. Bapak saya dengan seorang kawan juga berangkat dengan parang mau menghadapi mereka. Pemuda2 ini sudah tebang pohon2 kelapa dan kayu2 lainnya di jalan untuk menghalangi mereka supaya jangan masuk daerah2 Malili dan Nuha. Tapi saat tentera Westerling tiba, lari semua mereka, dan pohon2 kayu tadi dibersihkan dari jalan dalam waktu yang tidak terlalu lama. Tentera Westerling pakai mobil, sedangkan orang2 kami berjalan kaki saja. Waktu itu, Andi (gelar bangsawan) Mape, dari Palopo, kirim surat kepada camat Tabarano, Distrik Nuha, supaya menyerah saja, dan jangan melawan mereka. Saya ingat waktu itu saya bawa pulang parang dari kampung ke kebun untuk bapak saya. Waktu itu saya masih kelas satu. Bapak saya mulai dari kebun dengan mengasah parang biasa, tapi di Wawondula ia temukan parang warisan jenis PONAI, lalu ia menyuruh saya pulangkan parang biasa tadi ke rumah kami yang ada di kebun. Waktu itu bapak saya tinggalkan nasi di bahagian atas rumah kami di Wawondula pada suatu laci (shelf) yang dalam bahasa kami di katakan SAMBI. Dia pesan, "Kalau ini basi, berarti kami tidak pulang, tapi kalau ini tidak basi, kami pulang." Mama saya tinggal di rumah kami di kebun, dan tiap soreh saya pulang ke rumah kami di kebun. Tapi tiap pagi, waktu mau ke sekolah, saya singgah dulu pada rumah kami di Kampung Wawondula untuk cari tahu nasi itu, dan ternyata nasi itu tidak pernah basi. Kemudian saya ganti pakaian, dan ke sekolah. Lalu habis sekolah, saya singgah lagi di rumah untuk ambil payung daun tikar baru langsung ke kebun. Orang2 kami pergi kira2 seminggu, tapi tidak jadi melawan. Ada tiga macam alat pemikul yang biasa dipakai oleh orang Padoe. Kalompo dibuat dari daun pandan, kecil, anak2 bisa pikul. Di dalamnya biasa terdapat permainan anak2, misalnya gasing, kemiri, buku, potlot, pisau, dllsb. BAKI terbuat bagus2 dari anyaman rotan, dan dipakai oleh perempuan2 yang sudah besar untuk memikul isi kebun. BASO terbuat dari pelepah rumbia. Biasanya tiga lembar dijadikan satu. Ukurannya cukup besar. Baso dipakai untuk memikul beban2 berat, seperti padi, sagu, damar, sayur2an, dsb. Dan kalau baso dipikul oleh laki2, sering anaknya yang masih kecil ditaruh di atas sekali. Di bawah diisi dengan pakaian, makanan, dsb., lalu anaknya ditaruh di atas. Sedangkan perempuan menggendong anak2 kecil di depan pakai kain atau wasa, lalu di belakang sekaligus pikul baki. Memang ada satu cara lain, bernama MOLEMBARA, tapi ini tidak umum, dan tidak dipakai untuk pikul jauh. Sepotong kayu diberi pikulan pada hujung2nya, lalu semuanya dipikul dari tengah. Cara ini biasanya hanya digunakan dalam keadaan darurat. Ada juga semacam kotak pikulan yang kami buat dari pelepah rumbia, yang dalam bahasa kami dikatakan BASO. Baso terbuat dari tiga lembar pelepah rumbia yang dihubungkan dengan ikatan2 rotan. Dalamnya kami mengisi bekal, payung, buku pelajaran, dan kebutuhan2 lainnya. Kami membuat payung juga dari daun tikar, tapi untuk itu ada proses khusus. Daun2 itu harus dipanaskan, kemudian dijahit dengan jarum, dsb. Payung tikar ini terdiri dari suatu lembaran yang dilipat dua, dan setelah dilipat dua, bisa juga digulung. Dan setelah digulung, bisa diikat pada kotak pikulan yang dalam bahasa kami dikatakan BAKI, yang terbuat dari rotan. Payung2 tikar seperti ini dengan bahasa kami dikatakan BORU. Sungai2 yang mengalir di tanah air kami semua jernih sekali, dan dapat diminum mentah tanpa takut apa2. Nama2nya, antara lain, Koro Apundi, Koro Sora, dan Koro Musilu. Dari rumah kebun kami ambil air pada sungai2 yang lebih kecil, atau juga pada sumur2. Kepada kami, tanah tidak ada harga, tapi hanya pohon2 yang ditanam padanya yang berharga. Pada waktu saya belum sekolah, mungkin umur enam-tujuh tahun, ayah saya lempar orang dengan batu kena pipi kirinya. Orangnya sudah sedikit tuah. Namanya Gionto. Batunya besar. Pipinya berdarah. Kami waktu itu sudah tiga anak, mau yang ke-empat. Akhirnya ayah saya dengan orang ini berperkara. Perkara itu diurus oleh kepala kampung dengan adat-istiadat, tapi tidak bisa selesai. Kemudian ada satu orang bernama Mangaliki yang mengantar mereka, lalu perkara itu dibawa ke Tabarano, ibu kota kecamatan Nuha, tapi kepala distrik juga tidak bisa selesaikannya. Waktu malam, mereka tidur sama2 dengan Mangaliki di tengah. Akhirnya Mangaliki juga dipercayakan untuk mengantar dua orang ini pergi berperkara di Malili. Perjalanan mereka sekitar 60 kilometer. Dua orang ini seperti mau berkelahi, tapi tidak berkelahi juga. Kalau mereka berjalan, bapak saya di depan, Mangaliki di tengah, dan Gionto di belakang. Waktu mereka mau makan, tidak ada warung di perjalanan. Terpaksa mereka berhenti, masak makanan, dan makan bersama. Dan waktu mereka menginap satu malam di Karembe juga terpaksa mereka tidur bersama, bapak saya disebelah sini, Gionto di sebelah sana, dan Mangaliki di tengah. Di pengadilan Malili, batu yang bapak saya gunakan itu diikat lalu digantung jadi bukti bahwa benar Dama (bapak saya) melempari Gionto ini. Mangaliki yang bawa. Di samping batu ini, bekasnya juga ada pada pipi Gionto. Sekarang bagaimana hukumannya? Oleh hakim dikatakan bapak saya bersalah, lalu hukumannya penjarah satu bulan. Bapak saya pesan Gionto, "Pulanglah dengan selamat, dan kalau pulang, tolong lihat anak2 saya di rumah." Kami kan berdekatan kebun. Maka pulanglah ia. Waktu itu kenapa bapak saya lempar dia? Kebun Gionto tidak dipagar, jadi babi masuk lewat kebunya lalu makan jagung kami, lalu bapak saya marah. Sebenarnya tidak apa2, tapi ada orang yang menghasut bapak saya, katanya, "Kamu bukan laki2 kalau kamu tidak pukul dia!" Jadi bapak saya, karena mungkin masih darah muda, dia lari, dia ambil itu batu, dia lempar itu Gionto. Nah, bapak saya ini karena sudah biasa rajin kerja, dia dipercayai oleh kepala penjara, dia pergi ambil daun rumbia, dan dia bikin atap. Hari2 dia minta permisi sama kepala penjara: "Saya mau ambil daun sagu." Dan kalau dia janji dua jam, ya dalam dua jam dia sudah kembali lagi di penjara. Tiap hari itu kerjanya, dan dia jual atapnya, jadi uangnya menjadi banyak. Dan di samping rajin bikin atap, dia juga bersihkan seluruh penjara. Sampai orang2 di situ bilang, "Wah, ini orang dari gunung ini luar biasa, dan uangnya cukup banyak juga!" Lalu, waktu dia sudah mau pulang, dia belanjakan ole2 untuk kami, mungkin baju kaus dan kain2an lainnya. Dan dia belih garam satu baso. Jadi waktu dia tiba kembali di rumah, kami lihat barang2 yang dia belanjakan itu, saya bangga sekali sebap bapak saya masuk penjarah. Kesan saya orang kalau masuk penjara itu uangnya banyak, dan pulang dengan garam. Waktu saya sudah sekolah, ada teman kami bernama garege. Garege ini sakit KUMI (rupanya boba). Kulitnya bernana. Dia dikirim berobat di Rumah Sakit Malili. Kami waktu itu belum bisa berbahasa Indonesia dengan baik, dan kami berbahasa Padoe saja. Tapi mungkin di Malili si Garege ini ada belajar berbahasa Indonesia, karena setelah berobat sekitar satu bulan, dia pulang sambil tepuk dada dengan bangga. Wah, begitu dia datang, dia bilang, "Lihat ini tuang2 dari Malili! Lihat ini tuang2 dari Malili!". Jadi kesan2 kami di daerah tertutup itu kalau orang pergi berobat di rumah sakit itu dia jadi tuan2. Suatu saat saya sama Bapak mau ke Malili. Saya waktu itu sudah sekolah. Umur saya sekitar sembilan tahun. Wah, kami bawa madu, bawa kopi, bawa apa. Kami pikul itu juga berjalan beberapa hari baru sampai--tidak sekali berangkat soreh sudah sampai. Musti menginap dulu di jalan. Kami pergi itu waktu, kami hanya sebentar di Malili. Hanya jual madu, jual kopi . . . Ah, setelah itu makan pisang goreng. "Wah, enak, ya, pisang goreng? Eh, bagaimana caranya bikin pisang goreng?" Di kampung itu kami tidak tahu bagaimana bikin pisang goreng. Wah, Malili itu pisang goreng! Jadi saya punya pikiran itu waktu, "Ia, kalau kita ke Malili itu pergi makan pisang goreng!" Padahal kami di gunung itu, pisang hanya direbus saja, dibakar saja, karena di gunung tidak ada minyak. Dan tidak ada minyak itu, tidak tahu bagaimana namanya pisang goreng. Ada pohon kelapa, tapi orang tidak tahu bagaimana bikin minyak. Belakangan, setelah agak maju, baru, "O! Bikin minyak itu begini!" Saya sendiri waktu itu belajar bikin minyak, kemudian minyak itu saya campur dengan nasi. Waduh, enak sekali, ya, kalau ada minyak? Orang di gunung tidak mengerti masak pakai minyak, tapi ada satu orang di kampung bernama Teitei. Dia ini agak maju. Dia punya toko di situ. Kami dengar dia masak dengan minyak. "Bagaimana caranya bikin minyak? O, begini caranya!" Ah, kami coba bikin minyak. Padahal, di daerah lain, tidak terlalu jauh dari situ, memang ada orang jual minyak. Kira2 120 kilometer, di Mangkotana, ada daerah yang banyak minyak. Banyak kelapa, dan banyak orang bikin minyak di situ. Tapi karena daerah kami tertutup, kami tidak tahu hal itu. Saya mulai ikut2 Bapak mengambil sarang lebah waktu umur saya kira2 sepuluh tahun.Lebah memang ada yang kecil dan bersarang di lobang2 batu, yang sekarang orang2 kota juga pelihara pada batang2 kelapa berlobang. Jenis itu kami katakan MEOA. Tapi yang perlu kita ceriterakan di sini adalah lebah hutan, yakni yang dengan bahasa kami dikatakan TAWON atau HOANI itu. Biasa lebah2 hutan buat sarangnya di pohon2 tinggi yang jauh di dalam hutan, sepertinya supaya orang tidak tahu mereka ada di sana. Dan biasa di satu pohon besar bisa ada sampai lima atau enam sarang madu. Cuma belakangan ini memang sudah agak berat bagi lebah2 itu karena orang sudah maju sampai di hutan2 untuk tinggal di sana. Tapi dulu, bapak saya kalau dia tahu ada tawon, dia cepat taruh umpan madu supaya mereka datang banyak. Maksudnya supaya dia mau cari tahu di mana sarangnya. Langsung dia tumpahkan madu di mana dia ada, dan lebah2 ini pada datang untuk ambil madu. Dalam tempo setengah hari begitu, lebah yang datang sudah banyak. Nanti kalau sudah pukul 10-11 pagi, Bapa ini cepat2 cari tahu di mana sarang mereka--ada yang 5-8 kilometer dari tempat itu. Bapak mulai lihat mereka terbang ke mana--apa ke timur, apa ke barat, apakah ke utara, apa ke selatan. "O, ini ke selatan! Ke selatan, o, di sana ada hutan besar di sana!" Mulai Bapak lihat sampai di mana penglihatan Bapak ada lebah, dia pergi panjat pohon di sana. Dia periksa lagi. "Di mana? Oo, sampai di bukit sana mereka lewat di sana!" Jadi ada bunyi, "Siing! Siing! Siing!" Oh, dia pergi lagi di bukit di sana. Dia turun lembah, naik bukit. Dia sampai di sana, "Oh, mereka ke arah sana!" Dia panjat pohon lagi di sana. Oh, biasa sampai pulang soreh karena mengikuti jalannya lebah itu! Tapi begitu nanti sudah ketemu, "Oh! Oo, di sini sarang mereka!" Ah, dia lihat dulu barangkali sudah ada yang punya. Dia lihat keliling, "Oh, tidak ada! Oh, berarti ini saya punya ini!" Kalau sudah punya orang, tidak berani Bapak ambil. Dia ambil akar kayu lalu dia buat seperti tali kalung yang di leher sapi atau kerbau. Kemudian dia ambil sepotong kayu, dia potong, lantas dia tanam di situ, lalu padanya dia gantung tali yang dibuat tadi. Dengan demikian dia tandakan bahwa "Ini punya saya!" Kalau sudah dikasi tanda begitu, diambil orang, berarti dendanya kerbau. Begitulah adat-istiadat kami di sana yang sudah disiapkan dengan tali untuk mengulur dari atas ke bawah. Nanti dia sudah pakai akal di sana, "Panjat dari batang ini ke batang sana." Dia sudah lihat batang sana, batang sini. Dia sudah bikin di bawah kayu yang diikat. Kalau nanti kayu itu disorong keatas, dia bisa terkait dengan cabang yang lain. Kalau cabang itu besar, dia buat di sini besar. Jadi kalau nanti disorong-sorong-sorong-sorong sampai di atas, dikaitkan di pohon besar, baru dia panjat sampai di situ. Ah, disorong lagi yang satu sampai di sana. Sorong lagi sampai ke atas. Biasa tiga-empat batang kayu baru sampai di dekat sarang lebah itu. Nah, kalau sudah dekat, biasanya sudah disiapkan sepotong bambu dengan seikat kulit kayu yang bisa mengeluarkan asap. Kulit kayu dibakar di bagian bawah bambu, asap keluar di bagian atas. Kemudian hujung atas bambu ini disorong ke sarang lebah, lalu lebah2 lari. Takut dia dengan asap. Nah, saya di bawah sudah dibikin tempat sembunyi di sebelah kayu yang tidak gampang lebah masuk, sudah ditutup, dan saya sembunyi di bawah. Blek sudah siap di situ, dan Bapak sudah naik bawa talinya. Jadi nanti dia tinggal teriak. Bleknya sudah dikaitkan dengan kait yang dia sudah buat begitu rupa. Dia bawa naik, dia ambil, baru dia ulur lagi turun, saya ganti lagi... Ah, cara dia, tidak tahu benar-tidaknya, dahinya dan dahi saya sudah dikasi kapur sirih. Kapur sirih, katanya, lebahnya tidak lihat. Tidak tahu kalau dia ada menteranya. Tapi yang jelas, begitu nanti dia sudah ambil ini sarang lebah dengan madunya, dia buang itu madu ke sana, madu ke sini. Jadi lebah itu tidak jadi gigit dia, tapi mereka makan madu yang sudah disebar sana, sebar sini. Sampai di bawah, nanti itu air madu sudah banyak, lebah ini tidak jadi marah, tapi mereka mengisap madu. Jadi saya keluar nanti dari persembunyian, saya juga pakai kapur di dahi, kalau dia sudah teriak, "Itu, bleknya, ayo dikaitkan!" ah, sudah, dia naik ke atas. Dan untuk mengambil ini sarang madu, sangat berhati2 dengan parang tajam tidak boleh melukai kulit kayu, sebap nanti kalau dilukai, dia tidak mau lagi bersarang di situ. Jadi kami hati2 sekali supaya lain kali dia sarang lagi--ada madu lagi di situ. Ah, kami dengan perlahan2 nanti potong sedikit, ya. Dan kalau besar, itu bisa empat blek itu. Wah, kita pikul pulang itu berat sekali. Lalu pulang di rumah, sarang madu ini bisa dimasak, bisa dimakan langsung, sisanya bisa dijadikan lilin. Sarang lebah enak dimakan. Di situ banyak anaknya yang masih mau jadi--sudah mau keluar di sarang lebah itu. Jadi makannya itu musti ada bulan kosong, ada bulan berisi. Berisi itu bulan purnama. Kalau bulan purnama, dia keluarkan anaknya masi muda2: belum tuah. ENAK sekali! Bisa dimasak jadi sayur, bisa ditaruh di bambu terus dimasak dengan bambu... Enak sekali. Dan kalau lilinnya, ah itu terus dimasak juga, keluar lilinnya. Terus madunya ditaruh di botol. Bisa 15 botol, 20 botol, 25 botol. Wah, tinggal jual! Tapi soal gigit, yang paling sakit adalah jenis lebah itu yang dengan bahasa kami dikatakan TOWUE, yang di tengahnya kuning itu. Itu tidak bisa dimakan dia punya sarang itu. Ah, kalau itu yang gigit, aduh SAKIT benar! Demam, orang! Pada awalnya orang2 Padoe tidak bikin sawa. Mereka tanam padi gogo saja. Tanah mereka cukup luas, dan mereka merasa harus berpindah2. Mereka mulai buat sawa hanya karena tekanan pemerintah saja. Dua kali Bapak saya buat saluran air yang membawa air sampai dekat rumah kami. Ia gali dengan tangan sendiri, dan tidak pakai orang. Satu kali ia membuat saluran air lewat lereng gunung di mana ada batu besar. Ia mengumpul kayu banyak sekali di atas batu itu, lalu ia membakarnya. Begitu lagi merah2 ini batu, dia siram air. Terkupaslah itu batu! Lalu ia mulai pakai linggis dan tandu2 untuk menggali perlahan2 sampai temukan batu keras lagi. Kemudian ia mengumpul kayu, membakarnya lagi seperti tadi, dan mengulangi seterusnya. Ia tidak pakai dinamit. Kira2 seminggu ia membakar dan memotong itu batu. Saya saksikan. Saya biasa kan disuruh Ibu antar nasi buat dia makan siang. Nanti sore baru ia pulang. Saya waktu itu sudah umur belasan--barangkali 13-14 tahun. Bapak memang orang nekad juga! Dan di dalam semua ini, Mama tidak menentang, malah ada waktu2 yang Mama juga ikut kerja gali saluran dengan Bapak. Nah, ini Bapak seperti dia tidak merasa puas kalau dia belum potong ayam di saluran air itu. Dia bawa ini ayam jantan besar, dia datanglah di sana, dia berdoa, "Tuhan, terimakasih. O, Engkau sudah memberikan air ini datang supaya saya ini tidak berutang. Saya mau potong ini ayam sebagai tanda ucapan syukur di tempat ini . . ." Setelah dia berdoa demikian, dia potong itu ayam. Setelah itu, dia bawa pulang, kami masak di rumah. Bukan ayam putih, tapi ayam yang disana kami katakan ayam Jawa. Bapak minum tuak bukan untuk mabuk. Ia minum hanya sedikit untuk hangat badan saja, lalu ia kerja keras. Misalnya kalau mau cangkul kebun di waktu bulan purnama, siang2 yang kerasnya sudah diambil semua (pohon kayu, batu, dsb.), lalu semalam2an ia cangkul terus sampai pagi. Dan kalau ada buku2 yang datang di gereja untuk dijual, langsung ia belih untuk anak2. "Hei, kamu orang, baca ini! Baca! Kamu musti sekolah!" Lalu saya, yang laki2, musti bantu dia, sedangkan yang perempuan bisa sekolah. Jadi adik saya yang sekolah sambungan (kelas empat sampai dengan kelas enam). Saya tidak. Tapi Kahar Musakar cari anak2 untuk dijadikan tentera gerombolan. Saya tidak pernah melihat Kahar Musakar. Hanya saya melihat tenteranya saja. Waktu itu baru saya disuruh sekolah lagi. "Kamu sekolah. Jangan jadi tentera gerombolan. Kamu sekolah saja." Ah, baru saya masuk sekolah kelas empat. Setelah itu, kami dipaksakan masuk Islam. Pertama2 Kahar mengambil beberapa camat, beberapa kepala desa, beberapa kepala sekolah, lalu membunuhnya sebagai contoh. Kahar Musakar pakai kampung2 Islam di Distrik Nuha sebagai markas untuk perIslamkan kampung2 Kristennya. Dalam tahab teror pertama yang dilakukan oleh gerombolan Kahar Musakar di Distrik Nuha, suatu rombongan yang agak besar diambil untuk diinterogasi. Mereka ditanya ini, itu, segala, dan dibawa agak lama dan agak jauh. Kemudian agak banyak mereka disuruh pulang, sampai tinggal tiga orang: Mokole (camat) Lasemba Malotu, Mantade, dan satu orang lagi. Mantade sebenarnya diberi kesempatan lari, tapi dia tidak mau. Dia bilang, "Saya mau mati dengan Mokole." Mereka bertiga ini lalu dimatikan. Satu kali, menjelang soreh hari, Bapak Palusu, dari Kawata, datang bertamu di rumah Akele Dara (wakil kepala kampung di Wawondula). Rumahnya bagus. Malam itu juga, sekitar jam sepuluh, kumpulan gerombolan datang, memaksa mereka keluar dari rumah, mengikat mereka, lalu membawa mereka sejauh lima-enam kilometer perjalanan. Di sana, menjelang pagi, mereka diinterogasi, disiksa, dan ditombak mati. Mereka ditanya macam2--hubungannya dengan gereja, dengan kepala kampung, dengan kepala distrik, soal agama, soal politik barangkali--padahal orang situ tidak mengerti politik apa2. Orang2 kampung, termasuk bapak saya, Podusu (adik Dara), Peru, dll., pergi mencari mereka beberapa lama, lalu akhirnya ketemu mayatnya. Mayat2 ini kemudian dipulangkan dan dimahkamkan. Di Matompi, sekitar enam kilometer dari Wawondula, Guru Pongkede, Kepala Matompi, dan Mangaliki diundang makan2 di Tamampu, sebuah desa Islam di tepi danau. Ternyata bukan. Mereka malah dibawa ke pinggir danau, dan disiksa. Guru Pongkede berhasil tendang lepas sebuah keris yang dipakai waktu itu, lalu dengan keris itu ia membunuh beberapa orang. Mangaliki juga berhasil membunuh beberapa orang. Tapi akhirnya mereka dijerat dengan tali panjang, dan ditenggelamkan dalam danau. Kemudian, Nampa, anak Lasemba, juga diangkat jadi Mokole ganti ayahnya, tapi dia juga dibawa, bersama Landangi Meoko, (kepala kampung Tabarano), ke seberang danau, lalu dibunuh di Lengkobale. Sebelum 17 Augustus, kalau tidak salah tahun 1952, semua tuah2 gereja--penatua2 gereja, guru2 sekolah minggu, dsb.) dikumpulkan di Timampu, di pinggir Danau Tuwuti. Saya pemain musik bambu di sekolah. Kalau tidak salah, orkes musik bambu ini harus ada 20-30 yang pemainnya. Kalau suling, biasanya perempuan yang tiupnya. Saya dan seorang kawan jadi pemain bambu bas kembar, terbuat dari bambu kecil yang dimasukkan kedalam bambu besar. Instrumen ini, kalau dengan bahasa kami, dikatakan TAMBOLO MERAKA, sedangkan anak2 perempuan mainkan beberapa macam SILOLI, atau suling bambu. Siloli ada dua macam, yakni SILOLI LANGKAI (suling besar) dan SILOLI DEDEIKI (suling kecil). Pada tanggal 17 Augustus, kami pergi main di Timampu, di mana tuah2 kampung semua sudah dikumpul lebih dulu. Ada juga anak2 pemain bambu lainnya dari Matompi, dari Pabarano, dari Paepae, dari Landangi, dari Kawata, dan dari Lasulawai--jadi RAMAI sekali waktu itu. Saat itulah kami dipaksa masuk Islam. Kalau tidak masuk Islam, berarti mati. Orang2 tuah kami sudah dipaksa lebih dulu, jadi nasehat mereka kepada kami begini: "Kita sekarang sudah Islam, jadi kalian baik2 saja." Memang Kahar Musakar yang panggil kami, tapi Kahar Musakar tidak ada di situ. Jadi setelah itu kami pulang, kami diberikan waktu satu minggu atau sepuluh hari. Semua babi harus dipotong dalam waktu sepuluh hari. Harus habis. Padahal babi kami banyak sekali. Karena kami masih kanak2, kami lebih turut daripada orang tuah. Orang tuah ini akalnya banyak. Di sini pura2 Islam, tapi di kebun makan babi. Ada lagi yang tidak bunuh babinya, tapi bikin kandang jauh2 di hutan di mana susah orang pergi. Cuma kalau ketahuan gerombolan, tidak ada penjarah. Langsung diadili dan ditembak. Gerombolan tidak ada penjarahnya. Setelah babi2 semua sudah dipotong habis, kami dibawa ke sungai, di mana kami diharuskan mandi. Imam panggil kami semua "mari", lalu kami disuruh gosok gigi dengan tanah, sebap sikat gigi tidak ada. Kemudian kami disuruh mandi. Selesai di sungai, kami semua dibawa ke BARUGA (rumah persinggahan) untuk diIslamkan. Dan di situ dibikin pengajian tiap malam dengan pengajaran2 Islam. Kami tidak disuruh sunat, rupanya karena bangsa kami memang sunat. Jadi tahun 1951 atau 1952, 24 desa itu diIslamkan semua oleh Kahar Musakar. Lalu tahun 1954, kami turun mengungsi di Malili. Di sana ada tentera Brawijaya yang jaga kami. Kami diambil, dibawa, lalu diberi kebebasan. "Siapa mau kembali ke Kristen, silahkan. Yang tetap Islam, silahkan." Kami disuruh pilih. Setelah kami mengungsi baru saya menyambung kelas lima - kelas enam, tapi saya tidak lulus kelas enam. Saya tidak pandai, sebap tiap hari kami pergi ke hutan cari hidup, dan waktu belajar tidak ada. Jadi saya tidak lulus ujian kelas enam. Setelah bapak saya sudah mengungsi lagi dari Malili ke Bayondo, dekat Mangkutana, di daerah Wotu, saya sudah mulai merasa diri saya pemuda. Waktu itu ada dua pemudi ajak saya pergi ke Wotu. Pemudi2 ini ajak saya. Wah, seperti sudah pemuda gantang, saya! Yang satu Wisuna, yang satu Kuede. Ah, saya bilang, "Kalau begitu saya ikut supaya juga ketemu Bapak di sana," sebap saya sudah sendirian tinggal di Malili. Lalu saya berangkat bersama dua pemudi ini. Dari Malili mau ke Wotu harus menyeberang laut. Waktu itu ada kapal landing yang menggandeng tiga-empat perahu, lalu saya dengan dua gadis ini ambil pasasi pada salah satu perahunya. Setelah malam, saya tidur di antara mereka. Bersama kami di perahu itu juga ada banyak laki2. Setelah saya sudah tidur, kedua pemudi ini diganggu oleh orang Bugis, lalu mereka bangunkan saya di dalam kegelapan. Gelap2 di perjalanan satu malam itu, orang Bugis ini sudah mulai mau omong, sudah mau raba, dan mereka ini sepertinya di atas angin, saya ini dikasi bangun sama mereka! "Hei, Mapa! Bangun!" "Loh, kenapa? Kalau malam ini kan kita tidur?" "Loh, ini kita diganggu!" (dengan suara yang halus). "Ini, ini, wah ini begini!" Mereka sudah rasa terganggu, lantas saya dibangunkan. Waktu itu saya rasa diri saya seperti, ya, laki2lah! Umur saya sudah sekitar 17, dan saya sudah mulai jadi pemuda. Akhirnya sampai pagi baru kami berjalan kaki ke daerah pengungsian di Pakatan dan Bayondo. Saya tinggal di situ sekitar 2-3 bulan, dan waktu itu saya kerja ambil rotan di hutan. Biasanya kami berangkat hari Senin, nanti hari Sabtu baru kami pulang. Dalam beberapa hari itu kami mengambil rotan, mengikatnya, lalu merakitnya di sungai. Lalu yang belih rotan kami orang2 Bugis. Berminggu2 kami di hutan. Hanya hari2 Sabtu kami pulang ke kampung untuk bertemu orang2, masuk kebaktian, dsb. Nanti Senin kami berangkat lagi bawa beras, garam, ikan kering, dsb. Di hutan banyak sayur, jadi kami tidak perlu bawa sayur. Batang2 rotan biasa kami potong panjang 2.75 atau 3 meter, jadi satu batang rotan tuah bisa dipotong menjadi empat helai, sedangkan yang muda hanya menghasilkan satu helai saja. Kami jelajah hutan ke sana, ke mari, cari rotan. Ada satu daerah yang rotannya banyak sekali. Setelah seminggu di situ, kami bawa ikatan2 rotan kami ke hulu sungai Koron Tomoni, lalu kami menghanyutkannya dengan rakit bambu menuju hilir. Tiap hari kami turunkan satu ikat. Pagi2 kami sudah berangkat. Kami ikat baik2. Deras sekali air Sungai Koron Tomoni, dan biasa ada batang2 enau yang terlentang di tengahnya, lalu rakit2 kami suka terdampar pada batang2 itu. Kalau salah perhitungan, lalu rakit kami masuk di sela2 batang2 enau itu, maka kekuatan air yang menekan di situ lebih kuat daripada ikatan rotan, dan sering kami tidak dapat melepaskan rakitnya karena sangking kerasnya air. Terpaksa kami tarik batang2 rotan itu satu-per-satu ke daratan, mengikat semuanya lagi, baru bisa kami langsung menuju hilir. Sampai ke hilir nanti bambu rakit kami juga dapat dijual untuk dipakai bikin rumah, lantai, tempat tidur, dsb. Waktu kami di Malili, hidup kami sudah susah sekali, lalu kami ingat kampung kami. Sebelum mengungsi kami telah mengambil piring2, dsb., lalu menyembunyikannya di lobang2 batu. Tapi waktu kami pulang cari, ternyata gerombolan sudah temukan semuanya. Jadi waktu itu orang Padoe terbagi dua. Ada yang dipegang oleh gerombolan, lalu dibawa menyeberang Danau Towuti, sedangkan sebagian yang lain, termasuk kami, dibawa oleh Brawijaya mengungsi di Malili. Jadi daerah kami yang saya katakan 24 desa tadi kosong semuanya. Lalu di situ kerbau banyak, sapi banyak, lantas rusa jadi jinak sekali, babi hutan banyak sekali, pohon2 rumbia tidak ada yang potong sampai sudah berbuah, kopi di sana-sini banyak, kelapa banyak sekali sudah kering. Jadi siapa yang berani, dialah yang dapat, yang takut tidak berani pergi. Nah, jarak antara Malili dengan daerah itu 60 kilometer, jadi kami musti jalan kaki dua hari baru sampai. Hanya orang kuat sekali yang bisa sampai dalam satu hari. Di jalan biasa kami ambil sayur, masak. Kalau ketemu gerombolan, kami lari, dia juga lari. Atau, kalau dia ada senjata, kami dikejar. Ada orang yang masuk dengan kuda, karena kuda bisa pikul satu kwintal, sedangkan satu orang hanya bisa pikul 30-40 kilogram saja. Tapi kuda sering dirampas oleh gerombolan. Jadi kami masuk ambil sagu, ambil daging, ambil damar, dan bahan2 lain, lalu memikulnya pulang. Kami sudah musti punya pondok yang tidak diketahui oleh gerombolan itu. Bagaimana caranya? Ah, karena mereka itu juga orang, mereka juga takut nanti kami serang mereka. Ah, saya bersama dengan satu oom, namanya Tandiala. Tandiala ini seorang yang bijaksana. Seorang yang punya akal tinggi. Dia bilang begini: "Pagi2 sebelum jam delapan, kita sudah masuk hutan." Ini cari damar ini. "Sebelum jam empat, kita tidak boleh keluar dari hutan." Dia selalu punya akal ini. Lantas kalau kami keluar dari hutan soreh2, kalau banyak kerbau, ada rusa, ia berkata, "Oh, tidak ada gerombolan." Hikmatnya dia begitu. Tapi kalau sepih, ia berkata, "Oh, kita jangan keluar dulu. Kita di sini dulu. Kita tunggu saja di sini, di pinggir hutan." Jadi Tandiala ini kasi pengalaman hidup cukup banyak kepada saya. Sudah meninggal sekarang, orangnya. Jadi kalau kami lewat di padang, cepat2 kami masuk hutan. Kami tidak boleh kelihatan di padang kalau sudah jam delapan. Gerombolan ini sudah datang kira2, begitu. Nanti kami ambil damar perlahan2, kami potong itu damar, kami pikul kira2 20 kilo, kami keluar dekat2 padang, kami periksa, kami lihat. "O, ini banyak kerbau. O, itu banyak rusa. O. Ah, kita jalan saja. Tidak ada. Tidak ada. Gerombolan tidak datang." Kan bergantian masuk. Mereka datang, kami lewat. Ada kawan kami satu tuli--namanya Bato. Karena dia tuli, dia tidak dengar gerombolan. Oh, dia dihadang! Habis dia! Mati! Waktu mau dikuburkan, mau dibawa bagaimana? Ya, dikubur saja di situ oleh teman2. Tidak ada untuk menggali tanah bagaimana. Piring kami itu kan piring seng, jadi kami bikin kayu untuk gali tanah. Kami potong akar2 kayu dengan parang (kan di hutan banyak akar), lalu dengan piring inilah kami seperti sekop buang tanah di atas untuk mengubur teman ini, tapi kubur yang kami bikin itu tidak dalam. Akhirnya kami cari lagi kubur Bato ini sudah tidak ada. Batu sudah dimakan habis oleh babi. Suatu saat, saya ini dengan Woleangi. Kami berdua. Kami lihat mereka sedang kasi turun kelapa di Kampung Wawondula. Di Kampung Wawondula ini kelapa banyak. Kira2 jam tiga, mereka sudah pulang. Oh, kami lihat mereka pikul itu kelapa. Dan dari atas pohon di bukit kami lihat, oh, mereka sudah pergi. Kampung sudah sepih. Kami turun di pinggir kampung itu,kami bawa akar tuba untuk bikin mabuk ikan. Kami sudah pukul dulu di gunung supaya tidak kedengaran, kemudian kami bawa. Kami coba dekat kubur, tidak ada satu ikan yang keluar. Tidak tahu kenapa. Tidak diidzinkan, barangkali, oleh setannya di situ! SATU tidak ada! Kalau akal normal, barangkali karena dingin tidak ada ikan yang kena, tapi kami pikir, "Ah, ini dekat kubur, ini orang2 kubur tidak kasi kita ikan! Kandeat kita tidak buat sesuatu apa supaya mereka kasi ikan." begitu. Jadi kami pulang saja. Tahun 1955, saya bersama Woleangi dengan Siaga bertemu dengan kawan2, di antaranya Laloasa, roxboli, dsb. Mereka bilang, "Teman kami sudah ditangkap." "Dan bagaimana ceritera ditangkapnya?" Mereka bilang pada waktu itu mereka datang di Jembatan Koro Apundi, mereka pukul2 itu jembatan, dsb., dan mereka berkata, "Tidak ada gerombolan." Mereka juga bertiga. Yang satu namanya Tera, yang satu namanya Butahi, yang satu namanya Lombi. Jadi waktu mereka bunyikan itu ke sana-sini, mereka pikir gerombolan takut. Ah, setelah itu mereka pergi ke pinggir kampung sana, mereka bakar daging di bawah lumbung, dan duduk2 makan2. Mereka di pinggir sungai. Ah, Butahi dan Lombi dengan Tera ini seperti bersenang2, tau2 gerombolan sudah kepung dan berkata, "Angkat tangan! Menyerah!" Yang Tera langsung LOOMPAT ke sungai. Entah mati, entah kena ranjang, entah apa, pokoknya lompat ke sungai dan lari. Lari mati! Yang dua ditangkap benar2, dibawa, diseret2, disayat2, dan mereka dikasi jeruk, dikasi garam, dikasi lombok, dan disiksa habis2. Dipotong2, diiris2, lantas di siksa. Memang sebelum kami mengungsi, mereka ini tentera gerombolan sebenarnya, jadi gerombolan kenal siapa mereka tadinya. Menghianat, kiri2 begitu. Ah, Tera inilah yang beri berita sama kami bahwa mereka itu sudah begini keadaan. Setelah Tera ketemu dengan Laloasa, dsb., mereka ini terus ada mengintip bagaimana keadaan kawan2 kami itu. Begitu Tera sudah ceritera, teman2 lain ini sudah datang lihat bagaimana kawan2 ini. Mereka datang mengintai, begitu, sebap kami waktu itu seperti takut, seperti tidak takut juga. Jadi apa yang mereka berbuat, kami lihat, dan mereka seperti lihat kami. Daerah itu kan daerah berbukit, jadi untuk bergurilia itu memang bagus. Sebenarnya tidak ada yang saksikan waktu mereka disiksa dan dibunuh, tapi setelah mereka sudah mati, Laloasa dan Roboli berhasil periksa mayat2 mereka, lalu terlihat bagaimana mereka telah disayat2 dan disiksa dengan air lemon, lombok, dan garam. Ternyata siksaan mereka itu memang berat sekali. Ah, mereka sudah mati, dan sudah semalam. Malam berikutnya, kira2 sudah hari kedua, hari ketiga, begitu, kami mau kuburkan mereka. "Waduh, kasihan! Kita musti kuburkan mereka kapan?" begitu. Nah, begitu kami sedang berkumpul di satu pondok di Tompahulu, ada dua orang, Latipu dengan Landawe, yang menyeberang dari gunung Leduledu turun ke Palumba, datang ke Tompahulu. Mereka menyeberang. Begitu mereka lewat di daerah itu, mereka tahu ada gerombolan. Mereka lari dengan cepat. Mereka di gunung itu baru selesai potong kerbau, jadi mereka bawa daging kering--entah sudah dijemur, entah sudah diasap. Begitu mereka datang, mereka bilang, "Di sana tadi kami lihat gerombolan." Ah, teman2 langsung naik pohon cari. "Io. Betul. Mereka menuju ke sini. Mereka lihat kalian punya bekas telapak kaki, jadi mereka turut jalan ini." Wah! Semua lari mengungsi! Wah! Siapa yang tinggal? Tinggal 12 orang untuk hadang mereka. Tapi ternyata setelah mereka datang, lari juga ini orang. Tidak ada senapang: hanya punya floit saja. Hanya tiup floit. floit apa? Tidak ada yang meledak! Ah, mereka kejar. Teman2 ini lari ke gunung--ke atas--sedangkan kami, rombongan, lari ke bawah. Waktu kami sampai di bukit, saya lihat teman2 ini bawa pikulan. Bawa dia punya baso. Bawa dia punya bekal2. Saya kok lari tanpa bawa apa2! Ah, saya pulang ambil saya punya baso ini. Baso saya itu ada dagingnya, ada sagunya, ada damarnya, ada apa semua. Ah, saya pulang ambil. Sebelum saya ambil untuk dipikul, saya buang air besar. Wah, pada waktu saya buang air besar, saya dengar seperti ada langkah2 orang! Saya panggil: "Roboli! Roboli!" Begitu saya pandang ke sana, kok topi waja! Adouuh! Maut sudah di depan ini! Saya lari seperti angin! Dan tempat saya lari itu, lari turun ikut bekas kebun. Banyak pohon2 kayu yang sudah lapuk. Jadi kalau saya pegang batang2 kayu lapuk ini, saya bawa jauh sekali baru lepas. Saya pegang yang lain, jauh sekali baru lepas. Begitu saya sampai di bukit di mana orang banyak, orang lihat saya itu sudah hitam, dan celana saya sudah kotor dengan tahi sendiri semuanya! Begitu mereka lihat saya, mereka lari semua. Jadi mereka bilang, "Untung Mapa pulang. Kalau tidak, kita pasti ada yang kena, karena kita nanti dikepung oleh gerombolan itu. Uuuntung!" Oh, kami LARI sampai di mana baru dapat sungai baru saya cuci kotoran2 tadi dari pakaian dan tubuh saya! Terus saya, Woleangi, dengan Siaga ini tetap kami bersama. Kami bertiga. Memang kami biasa berkumpul dan pergi2 bertiga. Dan untungnya waktu itu bulan purnama, jadi kami lari semalam2an ke Malili. Setelah itu, cukup lama baru saya dapat percaya diri lagi. Selama berapa bulan itu, saya TAKUT setengah mati. Saya takut pergi, jangan2 nanti gerombolan ada di situ. Ah, untung ada teman. Dia bilang, "Mereka itu juga orang--bukan babi. Babi itu bisa tinggal sembarang rumput, kan? Tapi kalau orang, dia juga tahu lapar, tahu dingin, kalau digigit serangga juga rasa sakit. Jadi bukan tiap ada rumput itu di situ mereka." "Oh, ia, ia, ia. Saya ini bodoh. Kenapa saya? Oh, ia." Ah, dan biasa memang kalau kami pergi, di kantong baju ini ada lombok. Jadi begitu nanti ada apa2, ini lombok kami makan supaya kami jadi berani. Kami gigit lombok itu di mulut supaya bikin kami berani. Selama saya tinggal sendiri di hutan2, pikiran saya selalu bagaimana saya mau rombak hutan itu, tanam kopi, dsb. Tapi karena kami selalu dikejar2 gerombolan, cita2 ini tidak pernah jadi. Kemudian saya berpikir bagaimana saya bisa keluar merombak hidup saya yang seperti itu supaya jangan saya terus begitu. Bukan saya benci hidup di hutan, tapi hanya saya berpikir bagaimana saya bisa keluar dari situ. Mau-tidak-mau kami harus keluar dari daerah itu, karena kami selalu dikejar, dan kami harus cari bagaimana hidup. Kami harus cari ijasa2, pas2,rebeweis, pas pelabuhan, dsb., supaya kami bisa hidup di kota. Kami waktu tinggal di hutan selalu tetapkan bahwa hari Minggu kami pergi gereja, kami berkawan, kami perlu ada teman, dsb, dan pada umumnya tidak ada pikiran mau tinggal terus di hutan saja. Tapi satu kali lombi dan Siaga mengambil tekad, rupanya untuk berpetualangan. Mereka punya pondok sendiri. Mereka bikin di jauh, supaya tidak ketahuan orang. Kemudian mereka potong2 baso pikulan mereka dengan parang, lalu membuangnya di tempat terbuka. Maksudnya supaya nanti teman2 mereka yang menemukan basu2 itu akan berkata, "O, teman2 kita sudah diambil gerombolan." Padahal mereka mau hidup berdua sendiri di hutan. Mereka sembunyi--tidak mau ikut orang, dan tidak mau turun lagi dari hutan. Waktu itu umur mereka 19 atau 20an. Setelah sudah kira2 tiga bulan kemudian, mereka kehabisan garam, lalu mereka datang curi garam kami yang juga mencari di hutan. Lalu kami kawan2 ini mulai curiga: "Ini siapa yang suka curi garam ini?" Akhirnya Laloasa cari2, lalu temukan pondok mereka di hulu sungai, jauh di hutan. Laloasa waktu itu memang bekas tentara Belanda dan gerombolan, dan kepala suku kami. Ia berhasil bujuk mereka, lalu membawa mereka turun. Rambut mereka sudah panjang. Mereka sebenarnya sudah mau turun, tapi malu2 hati. Kalau tidak berkumpul dengan orang berapa lama kan kita rindu sama orang. Kemudian mereka jinak lagi. Ada juga satu orang tuah bernama Tehodu yang pernah tinggal sendiri beberapa bulan di hutan. Dia hidup dengan makan ikan dengan sagu. Pohon rumbia, kalau dia tebang, dia injak2 sekitar dua baso saja untuk bikin sagu. Ah, jalan2 itu waktu memang benar2 saya seperti tidak tahu masa depan mau ke mana. Begitu saja saya cari hidup. Turun di Malili bawa sagu, bawa damar, pulang lagi ke atas. Kami tidur2an di atas, jalan kaki ke sana ke mari. Dan kalau kami potong rumbia, musti ada yang jaga, jangan sampai gerombolan datang, kami lengah. Dan pondok2 kami jauh di dalam hutan. Kami musti lewat sungai, lewat apa. Gerombolan pernah operasi di daerah kami. Mereka cari kami di hutan2 untuk dibunuh. Barangsiapa yang lengah dibunuh. Sunat, kalau dengan bahasa kami, dikatakan TINDIH atau TENINDIH, dan dilakukan pada anak2 laki2 saja. Sebenarnya bukan sunat keliling, seperti sunat biasa, tapi hanya sepotong kayu atau sebilah sendok dimasukkan di bawah kulit bahagian atas, kulitnya dibelah sedikit, lalu ditarik. Pada bangsa kami, sebenarnya sunat itu terserah orangnya--cuma kalau tidak sunat, malu. Kalau orang ketemu kami sambil mandi di sungai, lalu ternyata tidak sunat, kami merasa malu--apalagi kalau sudah dewasa. Tidak ada orang khusus yang mengerjakan sunat di bangsa kami. Masing2 orang kerjakan sunatnya sendiri--di gunung, di hutan, atau di mana saja. Sunat tidak dianjurkan, dan orang tuah juga tidak perlu tahu. Waktu saya sunat, kami tiga orang sedang ambil damar di hutan--saya, siaga, dengan Woleangi. Woleangi sudah oom2, sedangkan Siaga masih muda seperti saya. Kami sudah Islam, dan sudah kembali lagi Kristen. Si Woleangi ini suka didik saya dan Siaga dengan petunjuk2 hidup dan mengarahkan kami untuk apa segala. "Kamu ini kenapa?" kata dia. "Ayo, mari sunat!" Jadi Woleangi mengambil sendoknya, kami taruh di situ, lalu ia yang belah kulit kami masing2 dengan pisau. Sakitnya sebentar saja, terus dibungkus. Waktu itu kami ada dalam pondok. Memang kami sudah siap dengan obat2 tradisional. Kemudian kami langsung pergi bekerja mengambil damar dalam hutan. Tidak ada masaalah. Tidak bengkak, tidak mengapa. Sudah ada obat tradisional supaya tidak bengkak. Waktu itu saya sudah berumur 19 tahun. Saya dengan calon mertua saya Landawe itu, saya belum tahu kalau nanti akan jadi mertua. Dia sudah punya anak. Isteri saya sudah lahir, tapi masih kanak2. Si Landawe ini memang orang kuat. Kami pergi cari suatu perangkap babi. Biasa kalau habis orang bikin sagu, babi suka sekali makan sisa2nya. Di situlah kami pasang suatu tali dengan kayu besar di atas supaya talinya kalau disenggol oleh babi, jatuh ini kayu, prak! lantas lari ini babi. Ah, di tempat babi mau lari ini kami sudah pasang juga banyak ranjau (belahan2 banbu yang sudah ditajamkan), yang dengan bahasa kami dikatakan BINGKOBINGKO. Maksudnya kalau nanti babi lompat, akan kena BINGKOBINGKO ini. Ah, pada waktu kami sampai di sana, oh! bingkobingko ini berhasil rupanya! Dari jauh sudah kelihatan kayu besarnya sudah jatuh. Oh, kena! Oh, kita pergi lihat! Cari. Oh, dia turun di sungai. Kita ikut ini sungai. Daerah ini namanya Samambalu. Wah, mana? Oh, ada, ada! Oh, dia menyeberang! Waktu dia menyeberang, lihat, oh, cuma sampai di sini, kok turun lagi! Tidak bisa, oo, dia tidak bisa! Kami pulang ke seberang. Di sini ada rumput putrimalu. Dia ada di situ. Sembunyi. Ou, besar sekali! Dia masi belum mati! Dia masi kuat sekali! Jadi malah kami dikejar. Babinya sudah bergading. Oh, kami takut! Lari! Tapi ini Landawu ini, karena dia memang orang kuat, orang berakal juga, dia tombak itu babi dari jauh dengan tombak lepas. Tas! Wuh, kena! Sudah kena, kami turun kejar. Tombak saya diambil oleh Landawe. Landawe tombak lagi. Akhirnya kami potong, kami pikul dua orang, masih tinggal sebagian yang kami tidak bawa. Kami pergi ke suatu lobang batu. Di situlah kami potong, kami asap--satu malam, dua malam--sampai kering, baru kami bawa turun ke Malili. Kami pikul daging babi itu dengan sagu. Sagu di bawah, daging babi di atas--sudah diikat2. Ah, kalau mau dijual, sepuluh potong satu ikat--tapi sudah kering, sudah bagus. Jadi tinggal kami gantung gantungan2 di rumah, orang tanya: "Baru datang?" "Ia." "Mana?" "Oh, ini." Ah, sudah tinggal omong berapa. Jadi dengan daging2 itu kami terkenal sebagai orang biasa bawa daging. "Ada engga?" "O, Ada." Ah, "Ambil?" Sudah diikat2, nanti harganya sekian... Jadi ceritera Landawe ini, setelah saya kawin dengan anaknya, "Ia, dulu saya pernah sama bapak kamu!" (he-he-he). Siaga sekarang pensionan ABRI di Bondowoso. Setelah kami bersama, dia masuk tentara. Dia masuk Brawijaya di Palompo. Dari awal Mei sampai dengan Juni 1957, saya cari damar, dapat delapan baso. Saya pernah pergi berkawan dengan Hanusu, delapan hari tidak ketemu orang, hanya untuk damar satu baso saja. Masih hidup dia, di kampung sekarang. Waktu itu ada satu daerah, namanya Korobite, di pinggir Danau Towuti. Di sana banyak damar, tapi punya orang Bugis, jadi kami curi mereka punya. Kami ambil, kami naik gunung, kami turun gunung, kami menginap kalau sudah soreh. Kan kami bawa jam. "O, sudah jam berapa? O, sekarang sudah jam empat. Lebih baik kita isterahat di sini, di sungai. Kalau kita jalan lagi, tidak sampai kita di pondok yang satu." Jadi kami bikin pondok saja di situ. Kami tebang sembarang kayu, lalu kami mengatur batang2 kayu berjejeran diatas tanah. Kayu2 ini kemudian kami alas dengan daun supaya agak lembut sedikit. Diatas ini kami taruh tikar. Lantas kami kasi tiang ke atas, kasi kayu di atas, kami ambil daun2 rotan--daun rotan itu kan bagus--terus taruh di atas, ditumpuk lagi di atas dengan kayu supaya tidak terbang kalau misalnya ada angin atau apa. Tapi di hutan tidak ada angin. Tidak bocor. Kalau bocor pun, kami bawa payung boru tadi. Kami tidur di bawah payung. Juga kami ada kain sarung. Orang capek itu, di mana saja dia bisa tidur. Kalau hujan, bocor, kami duduk di bawah payung. Kan di situ kami terus bikin api sebelah-menyebelah. Kami bakar kayu besar2 di situ. Kan gerombolan jauh dari situ--tidak ada tempatnya. Kalau kami dekat2 daerah gerombolan,api itu kami hati2 sekali. Kami tidak boleh bakar berasap--nanti ketahuan: "Ou, mereka ada di sana! Itu asapnya! Wah, nanti kita kepung mereka!" Kami bawa belanga seng--belanga dari blek. Blek mentega dua kilogram, kita kasi ikat, kita kasi tutup. Atau ada juga memang belanga seng. Begitu pertama kami berhenti, kami cepat bikin air panas. Biasa kami bikin pondok dekat sungai, tapi kalau kami tahu daerah di mana kami pergi nanti tidak ada air, kami bawa air dari sungai dengan bambu. Kami taruh bambunya di dalam baso, baru kami pikul. Masing2 kami sudah punya mangkok, dan sudah ada kopi, ada gula. Biasa ada gula merah, ada gula putih, yang kami bawa. Saat air mendidi, kami bikin kopi. Ah, setelah kami minum, sudah hangat, baru kami masak nasi. Tapi karena waktu itu kami susah di Malili, nasinya itu bukan beras melainkan OYE. Oye itu dibuat dari ubi kayu. Ubi kayunya direbus, terus disaring, terus jadi BERAS OYE. Oye lebih murah dari beras, jadi kami bawa oye dari Malili. Sambil masak air panas tadi, oyenya direndam. Selesai bikin kopi, belanga dikosongkan untuk masak nasi oye. Air yang tadi rendam oye dibuang, lalu oye dimasukkan kedalam belanga. Oye ini sekarang diputar2 sedikit di pinggir api sampai rasanya kering, lalu belanganya ditutup sebentar. Tinggal kami masak sayurnya. Untuk lauk, di samping daun2an, kami biasa bawa daging atau ikan kering, terasi, dan lombok. Jadi kalau misalnya kami berdua, belanga dia bikin sayur, belanga saya bikin nasi, supaya dua2 siap satu kali. Dan kalau kami tidak terlalu capek, biasa di sungai2 banyak kepiting, jadi kami cari kepiting dengan senter atau dengan obor damar. Kepiting ini kalau dengan bahasa kami dikatakan BUNGKA. Bungka tidak besar. Agak kecil, tetapi enak. Kalau di pinggir laut, banyak bungka bikin mabuk; tapi tidak ada bungka bikin mabuk di daerah pegunungan. Pokoknya asal sudah dimasak begitu, kasi asam, sudah, enak sekali. Kami juga makan sagu, dan kami punya beberapa cara untuk menghidangkannya. Kalau sagu dicampur dengan kelapa parut, kemudian digoreng, itu namanya BEKELAU. Tapi belakangan orang Bugis ajar kami dengan suatu cara lain yang dikatakan SINOLE. Sagunya ditaruh di belanga, terus ditutup. DINUI adalah sagu mentah yang disiram dengan air panas lalu diaduk2 seperti kanji. Sagu seperti itu kalau sudah dingin dikatakan DINUI MOWATU. MODUI adalah sagu yang dicampur dengan air panas seperti kanji untuk dimakan dengan sayur-mayur dan ikan. Bulan Juli, tahun 1957, saya tinggalkan daerah itu untuk pergi ke Makasar ikut seorang bernama Haji Junait. Waktu itu saya ambil damar ada tujuh baso (sekitar dua kwintal setengah) yang saya jual kepada Haji Junait. Waktu itu Haji Junait tanyakan kami pemuda2, "Siapa mau ikut saya untuk menjadi pembantu rumah di Makasar?" "O, saya mau! Saya mau! Saya mau!" Saya terus siap2, saya ikut ini haji. Waktu itu Malili belum diserang habis. Kalau tidak salah, daerah itu diserang habis tahun 1959, 1960, atau 1961. Waktu itu juga orang mulai lari satu2 dari Malili cari jalan melalui hutan untuk mengungsi ke Sulawesi Tengah. Kemudian satu saat, Malili dibakar habis oleh Kahar Musakar. Orang2 lari semua, mengungsi ke Wotu. Di Wotu mereka diserang juga, lalu lari semuanya ke Palopo dan ke Sulawesi Tengah. Saat itu lagi saya sudah tinggalkan daerah itu. Di Makasar saya mulai dengan pekerjaan sapu dan mengepel. Juga saya angkat air dari bawah ke atas, karena Haji Junait punya rumah di lantai kedua. Saya pikul air ke atas. Waktu itu umur saya duapuluan, jadi sudah kuat2 tenaga. Kemudian saya belajar jual bensin di Haji Junait punya pompa. Dan saya masuk sekolah malam di SMP Kilat, yang berakhir dengan ujian dalam satu tahun. Waktu itu saya tidak mau ujian, padahal saya lulus, lalu saya pindah sekolah ke Sawirigading. Sawirigading itu orang bangsawan di Sulawesi Selatan yang bikin sekolah itu.Kemudian saya pindah lagi ke SMP Prindo. Saya merasa SMP Kilat ini hanya untuk dapat ijasa, tapi pengalaman kurang, jadi saya perlu untuk mendalam. Tahun 1959 saya lulus SMP dengan dua ijasa--yang lokal maupun SMP Negeri. Lalu saya masuk SMA Katolik, sekolah siang. Saya tidur di kantor, dan waktu bangun pagi, saya bersihkannya dengan sapu dan pel. Anak Haji ada satu yang lumpuh, Hafit (Pidek) namanya. Hari2 Saya mengantar dia ke sekolah dengan sedan Chevrolet. Jam dua soreh, saya naikkan dia kedalam mobil. Saya turunkan dia di SMEA, lalu saya pergi ke SMA Katolik. Nanti soreh, kalau sudah selesai, saya jemput dia lalu pulang lagi ke rumah. Di SMA banyak orang mau naik mobil saya. "O, jangan! Nanti dimarahi Haji saya! Saya dipecat sama Haji! Jangan!" "Wah! La Mapa ini! Ah, bagaimana, La Mapa, tidak boleh mau naik mobilnya!" "Tidak boleh. Nanti saya dimarahi Haji." Ah, saya terus jemput Hafit, pulang kami ke rumah. Biasa sampai di rumah ini Haji punya acara lagi. Saya musti antar dia ke mana, entah. Ada yang nanti jam sepuluh baru kami pulang. Saya tidur di mobil. Saya biasa bawa buku. Kalau saya capek belajar, saya tidur di mobil tunggu dia. Kemudian pulang, mobil saya masukkan, dia tidur, saya pergi kantor, tidur, sebentar lagi sudah pagi, saya musti bersihkan kantor semua, baru saya ke rumah. Sampai di rumah nanti saya mengepel, saya bersihkan mobil--ada Holden pickup, ada sedan, ada jeep, terus ada truck juga. Dan supir2 itu senang sekali sama saya karena saya bersihkan itu. Setelah itu nanti baru saya berangkat membawa anak Haji ke taman kanak2. Kemudian saya bersihkan rumah, terus saya bersihkan mobil2 milik Haji--ada sedan, ada pickup, ada jeep, ada truck. Sopir2 senang sama saya karena saya bersihkan mobil2 mereka, dan mereka datang lagi sudah bersih semuanya. Kami di rumah itu 24 orang--cuma saya yang Kristen. Kalau saya tidak ke gereja, haji itu marah. Dia bilang, "Hei! kau mengapa? Kenapa kau tidak pergi gereja?" "O, ia, ia, ia, Puang," saya bilang begitu. "Ia, Bang," saya bilang begitu. "Ia. Saya berangkat." Jadi saya tinggalkan pekerjaan saya ke gereja, tapi setelah gereja saya pulang lagi. Jadi waktu itu, haji ini, dia punya dagang, dagang Intersulair. Kayu balok2 besar itu, bebesu, rotan, damar, kopra, kayu hitam, dsb.--itu dia datangkan dari Kendari, dari Salabangka, dari Malili, dari Palopo, dari mana2. Bebesu itu ada semacam akar yang tergantung. Kalau dari Jawa, ia mendatangkan sarung palekat dengan kain batik. Jadi biasa kirim satu kapal ke Samarang dengan kopra, bongkar di sana, uangnya ditaruh di bank, terus belih batik/palekat dengan uang itu perlahan2, kirim ke Makasar. Ah, sana didagangkan, dijual sampai ke Kendari, kemana. Jadi itulah yang dikerjakan oleh beberapa pegawai di kantor itu. Pagi2 kalau mereka datang, sudah saya bersihkan semua. Dan sering kali kalau bongkar kopra, saya masuk di pelabuhan. Kopra bongkar harus dijahit karena robek karungnya, dsb., saya bekerja. Tapi nanti siang2 saya musti cepat2 pulang antar ini anaknya sekolah, dan saya juga sekolah. Dan waktu itu, pendeta saya di gereja, dia bilang, "Kau pergi sekolah penginjil di Ketamburan, di Jakarta." "Oh," saya bilang, "oh, tidak, tidak! Saya tidak siap." "Oh," dia bilang, "itu Sabarak sudah prakteik sekarang di Lampung dia. Dulu kan sama2 di sini?" "Ia." Akhirnya saya merasa waktu itu karena saya sudah punya idzin mengemudi, saya sudah tamat SMP, saya punya pas pelabuhan, dan untuk hidup rasanya sudah bisa hidup, saya. Ah, tengah2 saya belajar, sudah naik di SMA kelas dua, Haji ini belih mobil Holden pickup di Pekalongan, dan waktu itu Haji bilang sama saya, "Mapa, bagaimana kalau kamu pergi ke Pekalongan? Ada mobil di sana. Kamu yang atur." "O, " saya bilang, "Ia. Saya senang." Jadi saya tinggalkan Makasar. Saya pindah ke Pekalongan karena Haji suruh saya pelihara mobilnya di sana. Makanya saya tidak jadi ujian SMA. Hanya kelas dua, sampai di Pekalongan, mau sekolah, tidak boleh. Saya tinggal bentuk kursus Bon A, kursus mengetik, ..." (Bon A dan Bon B itu tatabuku). Ah, di Pekalongan ini kami empat orang bekerja. Satu, Hamsa, kami punya bos, keponaan Haji, terus ada bahagian keuangan, juga keponaan Haji, laki2, si Alwi, namanya. Terus Pajeng ini orang Jawa, sama saya. Kami berempat di situ. Hamsa ini sudah punya keluarga. Ada isteri dan anak2nya--itu waktu juga mereka masih taman kanak2 di situ. Jadi saya tinggal di situ bekerja membantu pembelihan kain batik dan sarung palekat. Itu tahun 1961-1964. Tahun 1962, sudah lama sekali saya tidak ketemu orang tuah. Sudah dari tahun 1957 belum jumpa. Tahun 1962, mungkin bulan Pebruari, Saya pertama kali pulang mau ketemu Ayah dan Ibu di Tomata. Saya dari Makasar naik trek ke Toraja, Palopo, dan Mangkotana. Selama beberapa hari di Mangkotana, saya buka sepatu untuk melatih jalan, karena dari Mangkotana ke Tomata memerlukan tiga-empat hari jalan kaki telanjang melintasi pergunungan Takolekaju. Saya berjalan kesana-kemari dengan kaki telanjang selama dua-tiga hari. Sekalipun kaki saya sakit dan terkupas, saya biarkan saja supaya bisa jadi kuat untuk perjalanan. Dari Mangkotana, satu hari soreh2 kami berjalan ke Laimbo. Di sana saya ketemu seorang gadis bernama Rogelina, adik Siaga. Orangnya hitam2, waja bundar. Dia sementara tinggal dengan keluarga Woleangi. Dia juga kebetulan mau pulang ke Tomata, lalu keluarga Woleangi percayakan saya dengan dia. Woleangi bilang, "Berjalan saja berdua. Tidak apa2. Tidak ada masaalah. Jalan." Mamanya (Wemaxa) sudah meninggal. Bapaknya (Podusu) tinggal di Pakatan. Tapi dia punya seorang Tente, bernama Ntiro, yang dia sudah memang siap2 mau kunjungi di Tomata. "Ya, okay-lah." Waktu itu lagi Kahar Musakar sudah kalah, dan sudah tidak ada bahaya gerombolan di jalan. Kami pergi dengan tidak bawa parang. Hanya bawa belanga, beras, ikan asin, sambal terasi, dsb. Ada pisau kecil buatan kampung, tapi punya Rogelina. Ini dia pakai untuk potong2 sayur. Rogelina sudah perhitungkan kami akan menginap nanti di Kayulangi, di mana ada pondok dengan kayu untuk masak. Kami tidak berani menginap sembarang, karena tidak ada parang untuk potong kayu bakar, dan kami bisa kelaparan; jadi mau-tidak-mau, kami harus sampai ke pondok Kayulangi. Rogelina juga pakai celana, dan kami dua2 sudah taruh sabun di celana untuk memberantas serangan linta. Dia jalan ke depan, lalu saya ikut perlahan2 dari belakang. Pertama ada kebun2, kemudian hanya hutan. Kami mengambil sayur2an di sepanjang jalan lalu masukkanya kedalam baso2 kami untuk dimasak sebentar. Akhirnya kami sampai di Kayulangi, kami tidur malam di situ. Sudah di gunung Takolekaju ini. Dingin. Masih memanjat sedikit lagi baru sampai Sampuraga. Di Kayulangi ada beberapa pondok beratap daun rotan, tapi tidak ada orang--hanya kami dua sendiri saja. Kami pilih satu pondok, lalu kayu2 bundar tempat tidurnya kami alas dengan boru2 yang kami bawa. Karena udara dingin, kami tidur belakang-kena-belakang, tapi untuk berbuat lebih daripada itu tidak ada. Kami masing2 pakai kain sarung sendiri yang kami bawa. Di perjalanan juga kami bisa omong, bicara, tapi tidak berbuat apa2, karena cium itu awalnya untuk ke seks. Pagi2, sekitar setengah-empat, kami bangun lalu masak. Setelah masak dan makan kenyang, kami masak lagi untuk bekal. Di jalan banyak sayur--sayur paku, sayur tawaxaro, sayur apa, kita bisa ambil. Kami ambil banyak2 sayur di jalan. Kemudian kami berjalan lagi sampai sekitar pukul sebelas, saat kami berhenti di tepi sungai Karuru untuk makan tengah hari. Sepanjang perjalanan ini juga kami terus di dalam hutan, dengan pohon2 besar di kiri-kanan. Sungai Karuru tidak terlalu besar, dan di tempat kami berhenti terbuka kepada mata hari, dan ada banyak batu2 kecil. Lalu waktu kami makan, waduh, enak sekali, sambalnya! Setelah berjalan lagi, kami ketemu seekor anuang di pinggir jalan. Binatang ini berbentuk seperti sapi, tapi lebih kecil dari sapi. Seperti rusa, tapi tanduknya cuma dua, seperti sapi. Anuang ini cuma ada di Sulawesi, dan tidak di tempat lain. Dia mau lari, tapi tidak bisa karena dia terpojok di lobang batu di sebelah kiri jalan, sedangkan di sebelah kanan jalan ada jurang. Karena kami tidak ada parang, terpaksa kami lewat saja. Jadi kami lewat cepat2 sekitar 4-5 meter dari dia dengan rumput2 di antara. Mustinya kan itu daging. Kan bisa kami potong dia. Di tempat itu hutan tapi banyak batu. Di sepanjang jalan semuanya hutan, dan banyak lintahnya. Pada soreh hari baru kami sampai di beberapa pondok dekat Sungai Sampuraga. Waktu itu kebetulan ada banyak orang yang menginap di sana, tapi toh masih ada pondok kosong untuk saya dengan Rogelina. Kami mengambil kayu, lalu masak, lalu cepat2 tidur supaya mau bangun pagi2. Ada orang yang membawa obor terbuat dari bambu berisi minyak tanah dengan kain sumbu, tapi saat sudah jauh malam, obor2 itu dimatikan, lalu amat gelap semuanya. Hanya tinggal api ungun kami, yakni sepotong kayu besar, yang masih ada apinya sampai pagi. Sekali lagi saya tidur dengan Rogelina--kali ini malah makin dekat lagi karena banyak orang yang bisa mengganggu! Setelah itu sudah hari yang ketiga kami di perjalanan. Kira2 pukul dua kami tiba di Maioa. Maioa itu sudah kampung pertama di daerah Poso. Liwat Maioa jalan sudah rata, tidak ada rumput lagi, dan tidak ada lintah. Orang2 kampung sudah perbaiki jalan. Namun demikian, kaki saya sudah bengkak, membuat saya harus jalan perlahan2 sekali. Tapi kaki Rogelina tidak sakit, karena dia sudah biasa. Perjalanan kami kemudian melewati Kampung Pendolo. Sudah malam baru kami tiba di Kampung Korobono. Di sana sebenarnya ada beberapa kampung, sebuah sekolah, dan ada juga sungainya. Lalu kami menginap di rumah orang. Esoknya, hari keempat, sudah tidak bisa lagi kaki saya berjalan, lalu kira2 jam sepuluh pagi, Rogelina datang mengurutnya. Anak2 sudah pergi sekolah, dan tidak ada orang lagi di rumah kecuali Rogelina dengan saya. Ya, waduh, waktu dia mengurut ini, toh kenapa kok bisa naik ini? Kenapa bisa begini? Darah Yesus, JANGAN! Saya bilang, "Ah, sudah-sudah-sudah! Cukup-cukup! Minggir-minggir! Jangan di sini! Ya, minggir-minggir-minggir! Kau minggir! Pigi sana!" Dia sudah tahu ada apa2, jadi dia tidak bilang apa2. Dia juga jaga diri, kan? Dengan diam2 saja dia pergi masak. Kami makan siang, siap2, istirahat, karena besok pagi musti berjalan lagi satu hari baru sampai di Kampung Tomata. Dari Korobono ke Tomata sudah banyak kebun, sedikit2 hutan, dan jalan sudah tidak berrumput, dan sudah tidak ada lintah.Waktu itu saya belum jadi pendeta, tapi sudah ikut2 melayani. Mungkin pertengahan 1962, haji itu meninggal. Jadi sepertinya kami bingung waktu itu--Kenapa? Saya waktu di Jawa kalau adik saya tulis surat bahwa Bapak sakit, saya punya rindu itu bukan main! Saya musti berangkat, sekalipun musti jalan kaki nanti untuk ketemu mereka. Tapi soal tempatnya, saya tidak lagi berpikir saya mau hidup di situ. Namun demikian, hampir tiap tahun saya ada di sana, dan saya selalu merasa iba kalau memandang gunung2 Sulawesi. Kalau saya melihat tempat2 itu yang dulu2 saya berjalan kaki di sana, air mata saya melele. Dan ada satu nyanyian, "Desaku Yang Ku Cinta," yang sering saya dengar, dan apabila saya dengar lagu itu sering keluar air mata. 1963 kami masih bertahan. Kami belih batik, palekat, kirim, dan di sana (makasar) masih lancar, baik. Satu baal kain palekat itu tigapuluh kodi. dibaal. Kami biasa kirim sepuluh baal, limabelas baal. Kalau kain batik, 42 kodi. Ah, kami bikin sekian baal, 15 baal, sama2 kirim ke Surabaya, Surabaya kirim dengan kapal ke Makasar. Nanti dari sana kirim satu kapal kopra ke Samarang. Ah, nanti di Samarang timbang, jual, uang masuk bank, terus diambil perlahan2 uang itu untuk belih batik. Begitu. Sama Hamsa. Saya bawa mobil jarak Samarang Pekalongan itu seratus kilo. Jadi kami ke Samarang, Pekalongan--saya yang sopir. Kalau Haji datang, yah, saya sama Haji pergi Jakarta, pergi Tasik Melaya, pergi Bandung, nanti ke Jawa Timur, nanti ke Tretes, ke Malang, ke Selekta, ke mana--keliling2 dengan Haji atau dengan keluarga Haji. Jalan2 di Jawa waktu itu masih rusak: tidak seperti sekarang. Tambalsulam waktu itu! Untuk bikin sagu, pertama2 pohon rumbia harus ditebang. Tidak semua pohon rumbia yang bisa ada sagunya. Harus yang berbuah. Kalau belum berbuah, tidak ada--hanya air saja. Jadi kita musti pilih mana yang berbuah, dan kita lihat ada sagunya, itu yang dipotong untuk bikin sagu. Ada pelepa yang kemudian diambil dari bagian atas pohon rumbia untuk membuat saluran air. Untuk ini nanti perlu air banyak. Yang pertama turun ini bagus sekali. Biasanya ini kami langsung ambil buat kami makan. Turun ke bawah sudah mulai kurang bagus. Yang terakhir tidak bagus sagunya. Sagunya dilembutkan, dan ada dia punya semacam bakul besar. Ah, itu diinjak2 di situ. Itu kalau bahasa kami dikatakan MOLANDA. LANDAKA ini dibikin rumah2 di atas, lantas bisa turun airnya itu ke bawah. Lantas turun lagi air kebawah kesana sampai tidak ada lagi sagunya. Alat yang digunakan untuk memukul sagu itu kami katakan SAMBE. Pohon rumbia dibelah dua dengan kayu yang dipukul. Ada juga yang dikupas langsung, tapi kami umumnya membelah dua. Setelah dibelah dua, ada yang MOSAMBE, ada yang MOLAXA. Molaxa itu yang pakai air sampai nanti keluar sagunya. Molaxa itu kami injak2 ini sagu yang sudah dihaluskan di air, terus keluar airnya di bawah. Ada bakul besar, namanya LANDAKA. Ini landaka dibuat begitu macam supaya tidak bocor--hanya air yang keluar. Jadi di samping diberi daun sagu, sedangkan di bawah diberi ijuk (dari pohon enau) yang dianyam sampai tidak bisa sagu keluar pada waktu injak2 di atas. Hanya airnya yang keluar. Air inilah yang membuat sagunya sudah mengendap di bawah. Baru nanti landaka ini diisi dengan ampas batang rumbia tadi, yang dengan bahasa kami dikatakan BURE. Hati pohon rumbia dikatakan SOBA, tapi kalau sudah dihancurkan dikatakan bure. Satu baso bure dituang di landaka, kemudian dipijak2 dengan air sampai tidak ada lagi sagunya, baru sisanya dibuang. Sisa inilah yang makanan babi. Biasa kami pikul itu untuk babi kami di rumah. Setelah 10-15 baso bure sudah diproses demikian, hasil sagunya sudah bisa dibagi. Sagu dari air yang jatuh pertama dari landaka tadi diambil untuk yang punya landaka. Dibawah ini ada dua tempat lagi, yang sebelah untuk orang2 yang kerjakan sagunya, dan yang sebelahnya untuk para pemilik pohon rumbia. Tapi sekarang orang buat sagu sudah pakai mesin semua. Pohon enau, kalau dengan bahasa Padoe dikatakan SINARI. Airnya juga sering dikatakan sinari. Pohon enau,kalausudah umur sekitar delapan tahun, sudah bisa keluar buah pada beberapa tangkai yang dengan bahasa kami dikatakan KONTA. Konta ini ada yang lima, ada yang enam, ada juga yang hanya dua. Pada bahagian atas pohon enau ada suatu cabang yang dalam bahasa kami dikatakan VUNGE, yang daripadanya sebentar akan keluar buah. Setelah konta ini keluar, dan sudah tuah sedikit, baru keluar vunge di bawahnya. Vunge ini kemudian mengalami pertukaran warna dari putih menjadi kehijau2an menjadi hijau tuah. Nanti satu-dua bulan sesudah vunge keluar dari batang pohon enau, kalau vunge ini sudah kelihatan kuat, pohon enaunya dipanjat melalui sebatang kayu atau bambu, dan kelopak2 vungenya dikupas. Kemudian sebagian buahnya dipotong dan dijatuhkan supaya tidak terlalu berat. Lalu vunge itu harus selalu digoyang2 dan dipukul2 dekat tempat keluarnya--biasanya dua hari sekali. Tanyalah kalau buah atau bunganya yang sebenarnya menetas. Proses ini berlangsung sekitar dua bulan, sampai bunganya sudah menetas dan lebah atau serangga2 lain sudah datang mengisap madunya. Saat itu, vungenya dipotong putus, dan bunga2nya dijatuhkan. Dari tempat potongan inilah sebentar akan keluar air yang dapat dijadikan gula atau tuak. Setelah vunge ini dipotong, tempat potongnya harus dirangsang. Ada sejenis daun rumput berlendir bernama SAMBEVU yang diambil dan ditumbuk bercampur lombok (cili padi), lantas dikenakan pada tempat potongan tadi, lalu semuanya dibungkus dengan daun, dan diikat pada vunge itu. Kemudian, tiap pagi dan soreh, bungkusan ini harus dibuka lalu tempat potong pada vungenya harus dipotong sedikit lagi supaya air yang mau keluar tidak tertahan pada tempat potong yang sudah kering, dan tempat itu harus dirangsang lagi dengan campuran sambevu dengan lombok dan ditutup lagi dengan daun2. Dalam dua-tiga hari, air nira akan mulai mengalir sendiri dari tempat potongan tadi tanpa lagi dirangsang dengan lancar sebesar aliran kencing kecil. Lalu setelah airnya bisa keluar terus, airnya akan ditadah dengan bambu yang berkepanjangan dua-tiga ruas, atau, kalau banyak airnya, dengan gentong atau bambu panjang tiga-empat ruas. Bejana ini digantung pada pohon enau, dan tiap pagi dan soreh airnya harus diambil. Untuk membuat tuak dari air nira, ada semacam akar kayu yang dibutuhkan, yang kalau dengan bahasa kami disebut akar MIRE. Akar mire ini dijemur atau diasap sampai kering, kemudian dipotong2 lantas dimasukkan kedalam bejana yang mau ditadahkan. Potongan2 yang sama dapat dipakai dua-tiga kali ambil air nira, kemudian kekuatannya habis, lalu dibuang. Kalau tuaknya mau dibuat SOMPI (proses distilasi), harus disediakan sebuah gentong besar, dapur besar, dan api besar. Kemudian harus pula dibuat pendingin, biasanya dari kayu yang dilobang untuk saluran air yang dalamnya ada sebuah pancoran bambu. Sompi lalu menetes2 masuk botol dari hujung bambu pendingin ini. Proses ini memerlukan sekitar 20 liter untuk menghasilkan sompi satu botol. Kalau tuaknya terus dimasak lebih lama, yang keluar air putih saja, sedangkan kalau ukurannya semua betul, sompinya sangat pedis, dan bilamana diminum sedikit saja, badan kita menjadi hangat sekali. Dengan Melayu Minahasa, sompi ini dikatakan CAP TIKUS, tapi kalau dengan bahasa Padoe namanya TUAXARA. Tuaxara ini biasa untuk pendingin. Kalau orang mau ingin mabuk, mereka minum banyak2, lalu mabuk. Tapi kalau air enau ini mau dipakai untuk bikin gula, ada suatu tali hutan yang harus dicampur dengannya, namanya KOSENGGA. Tali ini dipotong2 dan dimasukkan kedalam bambu2 waktu mau ditadahkan untuk terima air nira--tidak tahu maksudnya apa. Kalau untuk membuat gula, air enaunya harus bersih sekali. Tidak bisa dengan yang sedikit kotor pun, karena nanti gula tidak jadi. Air nira dapat juga digunakan untuk menghasilkan gula merah, tapi proses itu memerlukan beberapa pohon enau hidup dan banyak persediaan lainnya. Untuk menghasilkan gula merah memerlukan beberapa pohon. Tidak bisa hanya satu-dua pohon, karena airnya kurang. Kemudian musti ada kuali besar dan alat2 lainnya. Kalau dengan bahasa kami, tempat penghasilan gula merah dengan kualinya itu dikatakan BALOMBO. Di sekitar tiap balombo mungkin ada puluhan batang enau, dan dari ini tiap waktu harus ada lima-enam pohon yang sementara menghasilkan air nira. Pohon2 ini dipanjat berganti2an pagi dan soreh untuk mengambil air niranya, yang harus diambil tanpa alpaan. Air niranya harus bersih sekali, dan tidak boleh kotor. Kalau tidak bersih, tidak akan jadi gula. Semua bambu yang digunakan untuk menadah air nira harus selalu dicuci dengan air nira yang panas mendidi, kemudian dibalik supaya kering. Pekerjaan itu biasanya dilakukan waktu soreh, setelah selesai ambil bambu2 yang ditadahkan. Air nira baru itu dipanaskan sampai mendidi, bambu2 dicuci dengannya, kemudian ditinggalkan sampai besok untuk dimasak jadi gula. Biasanya air nira dipanaskan untuk dijadikan gula mulai sekitar jam delapan pagi sampai dengan jam duabelas atau jam satu siang. Orang segan bekerja malam karena capek, dan karena memerlukan terang matahari untuk melihat pekerjaan. Pagi2 bambu2 yang ditadahkan diturunkan, air niranya ditambahkan kepada air yang ada dalam kuali, lalu semuanya dipanaskan sampai mendidi. Bambu2 dicuci lagi dengan air nira panas dan ditadahkan. Air nira yang mendidi harus dijaga baik2 selama beberapa jam. Kayu harus disorong, air nira harus diaduk, dan tanda2 harus diperhatikan agar api dimatikan tepat pada waktunya supaya gula yang dituang dari kuali kedalam tempurung2 akan benar2 jadi keras. Biasanya orang mengerjakan pekerjaan balombo tidak lebih daripada tiga-empat bulan sebelum istirahat. Dalam keadaan darurat, ada yang orang tebang saja pohon enau untuk mengambil air niranya. Waktu kami di Malili, kami juga bikin tuak, tapi pohon enaunya kami tebang di hutan jauh. Pohonnya ditebang, hujungnya dipotong, air niranya diambil, lalu tuaknya dijual di Malili untuk orang minum, jadi uang. Orang belih satu ruas bambu berapa, satu ruas bambu berapa, kami sudah pikul baik2. Dan airnya ternyata cukup banyak juga. Kalau saya secara peribadi, memang sejak saya melayani Tuhan, saya tidak mau diikat lagi dengan kekayaan2 seperti di Sulawesi itu, sebap biasanya dengan kekayaan ini antara keluarga--kakak-adik, dsb.--bisa berkelahi gara2 harta-benda itu. Makanya pada waktu bapak saya meninggal tahun 1980, sapinya ada 16, lantas ada kebun kopi, ada kintal rumah, ada pohon kelapa, ada pohon rumbia, peninggalan2 parang, keris, dsb., saya tidak mengambil untuk saya sendiri supaya misalnya berhasil untuk pendidikan anak2 saya, saya berhasil bisa mendirikan rumah,s aya berhasil membuat gereja--itu semua asal dari Tuhan: bukan dari harta-benda ini. Jadi adik saya lima--perempuan semua--saya bagi ini sapi, saya ambil satu kalau mertua (mama isteri saya) meninggal, supaya itu dipotong. Saya ambil yang jantan supaya tidak beranak selama menunggu meninggalnya mertua ini. Jadi pohon sagu saya bagi, kelapa saya bagi, pohon kopi di daerah mana2 saya bagi sama adik2 saya, dan sapi juga bagi semua, jadi saya tidak ada lagi hubungan. Tetapi belakangan ini, anak saya yang nomor dua, Gideon, dia mengambil lima hektar tanah di sana atas nama dia. Karena saya punya mama masih ada, jadi Mapa ada dia punya juga, tapi anaknya: bukan Mapa. Yang satu di Mori Atas, itu ditanam coklat sekarang dua hektar. Tapi yang satu, tiga hektar, itu tidak dibikin apa2. Hanya hutan saja. Hutan besar2 kayunya. Besar sekali kayu di situ kalau misalnya mau dibikin apa. Cuma kami lihat waktu itu saya bilang buat tiga hektar dan kami buat suratnya, sudah sampai di kecamatan suratnya. Ada di lurah. Jadi tiap bulan juga kami berikan uang pajak tanah. Jadi sampai sekarang, setelah berlangsung beberapa waktu, adik saya di Makasar yang tadinya bekerja di staf Sipil Kodam 14 Hasanudin, dia baru berkata, "Oh, benar, Kakak, waktu itu kenapa harus lekas dibagi, dan Kakak waktu itu tidak mengambil, dan Kakak sekarang dalam keberhasilan ini karena Tuhan. Bukan karena pandai, bukan karena apa, bukan karena warisan, tapi karena Tuhan bisa Kakak berhasil sekarang." Dan melihat ada beberapa teman2, kawan2, seperti sudah berkelahi antara kakak-adik atau saudara sepupuh garah2 tanah itu, garah2 warisan itu, ah itulah yang ... Haji Junait lahir di Malili. Dia misalnya kalau timbang damar, kakinya saja main simpoa itu. Kakinya saja "Klaktak, klaktak." Jadi kalau damar sudah digantung pada dacing, dan ada antre lima-enam orang, dia hitung uang dengan kaki saja. Sekolahnya tidak tinggi, tapi kepandaian dan pengalaman perdagangannya luar biasa. Dan waktu dia berdagang di Makasar dengan nama "PT. Haji Junait" itu, memang beberapa temannya orang Cina. Dari Malili dia berkembang maju sampai di Palopo dan Makasar, sampai rumahnya di Makasar itu bangunan bertingkat tidak terlalu jauh dari pelabuhan. Rumah itu yang ada kamar mandi di atas tapi tidak ada pompa airnya. Saya pikul air saja dari bawah ke atas. Dalam rumah itu, waktu saya tinggal, ada 24 orang. Ada banyak janda2 dengan anak2 mereka. Mereka tinggal di bawah, dan mereka tidak sewah, karena Haji ini memang orang baik. Dan mereka memang keluarganya--barangkali keponaan, barangkali isteri saudaranya--yang suami2nya dibunuh oleh Westerling, yang bunuh 40,000 orang di Sulawesi Selatan. Dan banyak anak2 sekolah yang disekolahkan oleh dia yang bapak2nya dibunuh oleh Westerling itu. Mereka lumayan--sekolah pagi, nanti malam belajar--sedangkan saya belajar dengan pegang buku sambil jual bensin. Nanti kalau tidak ada lagi yang belih bensin, saya belajar. Kalau sudah capek, yah, saya taruh saja bukunya. Kami dua orang yang membantu jual bensin--saya dengan bos saya. Nanti jam enam bos saya tutup pompa bensin baru saya pergi sekolah. Haji Junait kawin dua kali. Isteri pertama meninggal, terus dia kawin dengan adiknya. Yang kakak melahirkan Hafit, yang adik melahirkan Moksen, Sia, Muglis, dan satu perempuan kecil yang saya antar2 ke taman kanak2 waktu itu. Jadi anaknya lima. Haji Junait bukan orang politik, dan tidak ada simpati dengan Kahar Musakar. Isteri saya dulu bernama Widiami, tapi setelah di Jawa mengambil nama Suratin. Ia lahir 25 September 1950, di Wawondula. Orang tuahnya tanam mangga di samping rumah mana ia lahir, dan pohon mangga itu masih ada. Satu kali kami sementara potong rumbia bikin sagu. Setelah sagu sudah ada yang bisa dipakai, kami kumpul api untuk masak. Tapi waktu kami bakar sepotong kayu, ada banyak semut yang keluar dari dalamnya. Kami tidak tahu mau bikin apa, tapi ada seorang kawan saya bernama Markus yang pandai sekali. Dia cari lobangnya, lalu dia tutup lobangnya itu. Ia, orang sebenarnya bukan pandai, tapi hanya pengalaman hidup saja. Teknologinya saja--bukan ada orang lebih bodoh atau lebih pandai. Kalau lihat saya punya punggung ini sebenarnya, di bagian tulang pinggang maupun di bahagian bahu, dsb., itu bekas memikul dulu belum begitu terhapus. Masih ada sedikit bekasnya. Sebap saya kalau sudah pikul itu, berhari2 menginap, sering kali sendiri, di hutan. Sekalipun takut, tapi saya tidur juga karena capek. Pernah saya berjalan dengan Maruka. Kami sampai di satu padang, ada rusa yang tinggal di situ. Kami kejar, dia putar2 saja. Dia tidak jalan lurus kencang. Dia putar, pergi sana, berhenti. Kami sudah capek. "Ah, tidak tahu bagaimana ini!" Tidak tahu bagaimana, satu saat Maruka berhasil potong putus kaki belakangnya. Kuku kakinya itu putus dan terlempar, jadi dia tidak bisa lari lagi, lalu kami kejar cepat2 dan membunuhnya. Kami mengupas kulitnya, lalu sekalipun pikulan kami sudah berat, kami mengambil dagingnya lalu memikulnya ke sebuah pondok di hutan. Sudah soreh2, dan kami takut gerombolan, jadi kami kerjakan semuanya dengan cepat2. Kami buang kulitnya, isi perutnya, lalu kami berjalan cepat menuju pondok kami di hutan. Di pondok nanti sudah banyak orang kerja, masak, kami senang sekali. Masak tidak pakai bumbu. Pakai daun sere, kalau ada. Kalau tidak ada, pakai daun2 apa yang ada saja. Sayur paku, hujung2 rotan--kami masak bikin sayur. Dengan damar satu beso bisa dapat belanjakan makanan dan dua kemeja merek "Smart" untuk masuk gereja. Baju kaus waktu itu tidak terlalu banyak di sana. Dengan dua-tiga beso damar bisa belanjakan dua setel celana dan kemeja. Tapi kain celana harus dibelanjakan dulu--satu meter lebih--kemudian disewah tukang jahit. Dan sebelum berangkat ke hutan, kami sering mengebon beras, oye, garam, ikan kering, ikan garam, dsb. Kalau soal sabun, itu tidak pernah, dan untuk sikat gigi pun waktu itu kami tidak tahu. Kami di gunung itu mana ada orang sikat gigi? Kami baru mengerti namanya sikat gigi itu setelah mengungsi. "Oh, ada sikat gigi ya. Ada odol." Saya tidak sikat gigi, padahal gigi saya sampai sekarang belum ada yang ganti. Cuma ada yang lepas beberapa di sebelah atas, sedangkan di bawah masih utuh. Di Haji Junait punya toko ada beberapa orang yang jaga. Haji Junait sendiri cuma datang sebentar terus pulang. Dari penjaga2 inilah kami mengebon. Dan penjaga2 ini juga yang tanyakan kami, "Ada yang mau pergi? Itu Haji mau pergi dan ada cari orang." "O, io, deh, mau! Kapan ketemu? Ayo, pergi ketemu!" Mereka yang bicara lebih dulu kepada kami, kemudian kami diantar ke rumah Haji. Ada sejenis tumbuhan yang dengan bahasa kami dikatakan TAWAXARO. Getahnya putih, dan sepat kalau dimakan. Kalau kami lapar, biasa kami cari pohon tawaxaro, lalu daun mudanya kami pakai bikin sayur. Daun papaya tidak pahit lagi kalau dicampur dengan daun tawaxaro. Buahnya keluar seperti buah arah. Buahnya langsung keluar tanpa bunga. Kalau dia matang, manis sekali, tapi kalau dia mentah, dia sepat. Kami suka makan buah tawaxaro, dan buah itu menguatkan gigi, juga mah. Dulu moyang2 kami mengasah gigi mereka dengan batu asah untuk bikin rata. Dan di Malili dulu2 ada orang pasang gigi mas. Saya tidak tertarik untuk pasang gigi mas, sebap saya pikir kita musti berhemat dalam hidup ini, dan itu sebenarnya tidak perlu. Giginya tidak dicabut, tapi hanya dilapis dengan emas. Sampai sekarang, saya sama isteri tidak pakai cincin, dll., sebap saya pikir itu pemborosan saja. Lebih baik uang itu untuk membangun gereja. Saya tidak tamat SMA. SMP saja yang saya tamat. Sampai sekarang juga, karena saya tidak punya ijasa SMA, saya tidak mau terima gelar "serjana teologia."Dulu di Medan pernah seorang teman saya bernama Simanjuntak bilang, "Oom, musti punya serjana teologia, Oom. Ya, pokoknya Oom datanglah. Oom, biar ada namanya. Kalau ketua umum kami, Mapa Maleta, Serjana Teologia . . ." Waktu itu kami pergi menghadap kepada Ibu Rektornya. Sekolah Sidang Jemaat Allah di Medan. Simanjuntak juga dosennya. Terus omong, omong, omong, ini-ini-ini, segala, ini, o, waktu mulai sekolah Alkitab, dan bagaimana, dan bagaimana . . ," sebap 'pengajaran mempelai' wanita tidak boleh guru, tidak boleh gembala. "Oh," saya bilang, "tidak, tidak. Saya tidak setuju juga itu." Saya memang orang Tabernacle, tapi saya tetap tidak setuju kalau perempuan itu terus dimatikan dia punya talenta, dia punya karunia, dia punya panggilan dimatikan--saya tidak setuju. Jadi setelah saya ceritera, ah, sudah. Simanjuntak sudah mau bayarkan Rp950,000 untuk wisuda saya. Tapi saya bilang, "Ah, saya ini bagaimana kalau dikasi? O, saya tidak pernah kulia. BAGAIMANA? Tidak mengerti Bahasa Yunani, tidak mengerti Bahasa Iberani. Percuma. Jangan. Tidak usahlah. Begini saja. Sudah diberkati, kok kenapa saya musti tidak puas dengan yang saya dapat sekarang? Ah, jangan, jangan! Nanti lain kali saja." MASA orang tidak tamat SMA dibikin persamaan tingkatannya. Ia, kan itu fals semua! Itu jangan fals2lah. Lebih baik yang jujur saja. Yang jujur itu diberkati. Sampai di Pekalongan, saya mau teruskan sekolah SMA kelas tiga, Hamsa yang pimpin di sana, dia bilang begini: "Kalau di Jawa lain dengan Makasar. Kalau di Jawa mau sekolah, ya sekolah, mau kerja, ya kerja. Pilih mana. Kalau kau mau sekolah, silahkan. Tapi kalau mau kerja, ya, kerja." Sayabilang, "Saya sekolah, biaya bagaimana?" Ia itulah. Pada tahun 1964, kami lagi kebaktian di Gereja Bethel Injil Sepenuh di Jalan Rambutan, Pekalongan, pendetanya Kho Sien. Waktu itu ada Pendeta Sapteno datang berkhotbah dari Bandung. Dia bawa formulir sekolah Alkitab Walker di Bali. Wah, khotbah kuat, kuat, kuat, kuat! "Siapa mau masuk sekolah Alkitab, silahkan maju ke depan." MAJULAH saya. Ada teman satu maju juga. Selesai, diberi formulir. "Kalau mau sekolah, ini formulirnya. Silahkan." Ah, terus pikir2. Saya di sini ini, KAPAN hidup saya berkembang ini? Ah, lebih baik sekolah daripada tetap bekerja di sini. Haji sudah meninggal. Al Hamsa ini sudah tidak terlalu banyak pekerjaan. Ah, sudah! Saya berangkat sekolah. Tanggal 28 Pebruari 1964, saya berangkat dengan Pendeta Kho Sien pergi Bali untuk bersekolah. Dari Pekalongan kami naik kereta api, lalu soreh hari kami sampai Surabaya. Kami menginap di Gereja Bethel Injil Sepenuh, di Jalan Panglima Sudirman. Gembalanya Pendeta Cong Giok Seng. Besok pagi2 kami naik kereta api lagi dari Surabaya ke Banyuwangi. Kira2 jam tiga soreh, kami menyeberang Selat Bali antara Ketapang dengan Gilimanuk. Ada satu pesan yang saya ingat sampai sekarang yang disampaikan oleh Pendeta Kho Sien: "Sebagaimana tali2 kapal itu dilepas dari pantai, demikianlah Mapa lepas dari semua dosa, sebap kalau tidak lepas dari dosa, Mapa susah melayani Tuhan." Pesan ini selalu menggelorah dalam hati saya. Dari Gilimanuk ke Denpasar, kami naik bis. Jam sembilan malam kami tiba di Denpasar. Kami naik dokar dari terminal ke Abean Kapas, asrama Sekolah Alkitab Bali, dan ketemu dengan Oom dan Tante Walker, pendiri sekolah itu. Kalau Bible School di Denpasar ini, kita dikasi sabun, dikasi apa semua buat makan. Di situlah baru saya merasa, "Oh, begini hidup sebenarnya, ya? Aduh, kenapa saya tidak pernah hidup seperti ini?" Itu belajar tujuh bulan--dari Pebruari sampai dengan September. Waktu itu saya punya kecepatan pandai WADUH, bukan main, luar biasa. Tapi dulu kalau saya menyanyi itu, tulis mi, saya nyanyikan re. Jadi ada teman saya, namanya Benny Kawoco, dia pintar nyanyi. Jadi kalau saya sudah menyanyi salah, dia bilang, "Kau ini bagaimana si nyanyinya? Bukan begitu. Do, re, mi, fa, so." Ah, do ini saya bisa nyanyikan so. Terus ini orang buka Alkitab, orang sudah selesai baca, saya belum ketemu. Tetapi begitulah saya nekad belajar, saya nekad kerja, sampai batu2 di kintal asrama pun saya cuci supaya bersih. Orang Ambon bernama Usmani, bekas tentara, yang pimpin kami, jadi kalau dia marah itu, waduh, kami jadi takut semua! O, Usmani itu wah, mengamuk dia! Sumur, kalau kering, saya turun gali di bawah. Terus mengepel, o, apa semua. Jadi waktu saya sama Benny Kawoco ini, dia di bawah, saya di atas. Ranjang susun, begitu. Hafal ayat waktu itu mungkin 160 ayat saya hafal. Banyak Mazmur. Biasanya kami bertanding hafal ayat. Terus nyanyi sudah bisa, ah, ini lagi: main gitar! Pokoknya main gitar ini main D. Di mana saja sudah main D. "Wah, bukan begitu!" Lalu Tante Walker ini biasa membuat perlombahan2. Jadi ulangan2, apa semua, "Ayo, berlombah! Nanti siapa bintang kelas?" Ini teman saya, Benny Kawoco, sebetulnya pandai sekali. Inggerisnya bisa, semua bisa, ini bisa. Tapi biasa waktu kami ulangan itu, musti saya ada lebih sedikit angka. Pandai dia sebetulnya, tapi angka, kalau sudah ulangan, tidak tahu dia kok rendah sekali. Ada orang Batak satu, Tarigan, dia juga tidak mampu. Jadi waktu masuk, saya yang terbodoh; tapi waktu kami selesai, dibuka itu nama juara, nama saya yang ditulis. Aduh, saya NANGIS habis2. Saya nangis si Benny sama Tarigan. "Sebetulnya kalian yang nomor satu itu, jangan aku. Kalian toh lebih pandai dari saya. Tapi kenapa ini Tante Walker tunjuk aku yang tolol?" Terus ada seorang teman lagi bernama Julianus Souisa. Dia sebetulnya pandai juga, tapi tidak m asuk juga namanya. Dan kalau kita pergi kebaktian kan jauh tempatnya. Mereka naik sepeda, saya jalan kaki saja. Padahal mungkin ada empat kilo itu pergi. O, itu dekat saja. Saya lagi pikir jalan di gunung pikul damar! Waktu saya masuk sekolah Alkitab itu, saya pakaian tuju setel, putih semua. Itu waktu, sebelum G30S, kan ada kain drill putih dijual di pasar2 di Pekalongan. Saya belih2 kain celana drill putih itu. Ah, itu saya jahit, ada tujuh setel pakaian saya. Jadi selama di sekolah, tidak pernah pikir pakaian. Sabun dikasi. Apa dikasi semua. Sudah tidak bayar baru dikasi lagi! "Aduh, TUHAN! Terimakasih!" Selesai sekolah, teman2 prakteik semua, saya di ditahan di sekolah. Di asrama saya waktu itu. Ah, di Tabanan, mungkin ada 25 kilo dari Denpasar, kami pimpin sekolah Minggu. Jadi datang, ajak anak2, kami nyanyi, terus Natalan. Natalan ini, terbakar pohonnya. Saya ANGKAT itu pohon, saya TARIK keluar, saya bawa, matikan api di luar. Jadi semua hiasannya itu pecah. Kami pulang dengan mobil Oom Walker. Saya ke asrama, terus tidur. Wah, sembahyang, tidur, tidak bisa, sembahyang lagi. Semalam tidak bisa tidur saya. Pagi2 benar saya sudah datang ke Tante Walker. Bagaimana itu tante? Saya sudah pikir2 jual sapi nanti buat bayar. "O," dia pegang2 tangan saya, "Mapa ini baik sekali!" Luh, saya ini pikir saya salah, saya pecahkan semua, kok dipukul2 baik sekali! Waduh, "Tante kenapa?" "Kalau Mapa tadi malam tidak tarik itu pohon Natal, itu rumah terbakar. Kebakaran kita. Jadi Mapa baik sekali. Semalam akalnya keluar. Bisa ditarik itu pohon keluar, jadi terbakar di luar, kan berarti Mapa dipakai Tuhan!" Jadi saya semalam tidak tidur, malah berobah saya dipuji! Saya sudah pikir, "Sapinya Bapak musti saya jual untuk bayar ini hiasan Natal." Malah terimakasih Tante Walker sama saya tidak terbakar rumah. Ah, saya ingat dulu, "Tuhan, begitu hidup ini baik sekali!" Saya waktu itu baru merasa namanya hidup itu begini orang hidup. Rus Alit adik Rexarsa. Ah, Rexarsa, waktu G30S, oleh Komunis dikejar dia, ditombak mati dengan tombak lepas di jalan air. Tahun 1964 juga bapak saya membuktikan kekuatannya dengan membuat kebun padi gogo di sembilan bukit dan sembilan lembah. Pada waktu panen, diumumkan di gereja bahwa barangsiapa yang mau ambil padi, silahkan datang, potong, dan membawa pulang, dan tidak usa bagi dengan bapak saya. Waktu saya tahu umur saya sudah 31, saya pikir saya musti kawin supaya nanti anak2 saya bisa selesai sekolah selagi saya masi kuat cari uang. Mereka perlu didikan yang cukup, dan saya musti cepat menikah, sebap umur 31, kalau saya terlambat kawin, nanti anak2 ini kasihan mereka punya hidup. Nanti saya sudah tuah dan mereka tidak bisa sekolah yang baik. Waktu itu saya ada di Mojokerto. Saya pikir2 mau kawin dengan gadis2 Mojokerto, tetapi rasanya tidak ada yang cocok. Saya cari di Krian, tidak ada yang cocok. Cari di Surabaya, tidak ada. Cari di Bondowoso, tidak ada. Cari di Jember, Balung, tidak ada. Ah, cari di Kertosono, di Lestari, tidak ada. Di Solo--Solo hampir jadi. Diantar oleh teman saya, Benny Kawoco,kita sudah ketemu gadisnya, omong, omong, omong, ya, sepertinya sudah serious, yah, tapi masi berdoa. Akhirnya cari lagi di Magelang, tidak ada. Cari di Pekalongan, tidak ada. Akhirnya di Pekalongan saya tulis surat kepada gadis Solo ini, saya bilang, "Kedatangan kami waktu itu dengan Pendeta Benny Kawoco ada maksudnya ini-ini-ini-ini. Kalau YOU okay, cepat tulis surat ke Mojokerto, alamatnya ini-ini. Saya akan pulang ke Mojokerto tanggal sekian, dan saya ada di Mojokerto akan membaca suratmu, bagaimana tangapanmu dengan kedatangan kami waktu itu." Waktu sampai di Mojokerto, saya tunggu-tunggu surat, tidak ada. Saya berpikir tidak ada surat ini karena tidak ada doa restu orang tuah. Inilah kira2 penyebapnya saya mencari isteri kok sulit sekali. Tidak ada doa restu orang tuah. Akhirnya saya mohon idzin pulang ke kampung dari pendeta saya, Oh Tjie Sien (Yokanan Setiawan Adiwijaya). Saya bilang, "Oom, saya mau pulang kampung dulu beberapa lama." Akhirnya saya ambil surat jalan karena waktu itu baru G30S, tahun bulan September 1967. Saya berangkat tinggalkan Kota Mojokerto, tinggalkan Surabaya, Pulau Jawa, saya datang di Makasar. Sampai di Makasar saya ketemu adik2 saya, di sana ada dua, yang satu, Lis, ikut pulang ke kampung. Kami naik trek, akhirnya sampai di Mangkutana. Dari situ kami harus berjalan kaki beberapa hari baru sampai di Kampung Tomata. Waktu itu orang tuah semua sudah mengungsi lagi dari Malili ke Tomata. Di Mangkutana juga orang sudah seperti tidak lagi mau tinggal. Akhirnya, berjalanlah kami tiga orang--saya, Lis, dan seorang orang Landangi, saya lupa namanya. Kami harus jalan lewat Gunung Takolekaju. Jalannya jalan setapak. Banyak rumput basah, banyak lumpur, banyak linta. Celana kami kasi sabun supaya linta tidak makan. Waktu terlalu banyak lumpur, kami jalan dengan kaki isi, tapi kami mengikat sandal japit di pinggang agar dapat dipakai lagi kalau jalan lebih kering. Setelah berjalan dua setengah hari, kami tiba di Pendolo, di pinggir Danau Poso. Waktu itu saya sudah tidak bisa berjalan lagi, karena kaki saya sudah bengkak. Di situ bisa naik perahu menyeberang ke Tentena, atau kalau jalan kaki terus ke timur bisa capai Kampung Tomata dalam waktu satu hari. Perahunya, yang di sana dibilang KATINTING, punya layar dan dua belah semang, dan bisa muat sekitar 10-15 orang, tapi tidak ada mesinnya. Penumpang bisa ikut berdayung. Saya bilang, "Kalian berdua jalan terus ke Kampung Tomata, saya mau menyeberang ke Tentena, dan saya mau ke Poso. Saya mau menginjil, dan saya mau membuat kaki ini supaya sembuh dari bengkak." Saya naik perahu sampai ke Tentena, lalu saya ikut kebaktian di situ di Gereja Pantekosta. Kalau tidak salah, saya menginap semalam di situ. Kemudian saya turun ke Poso dengan trek. Sampai di Poso sudah ketemu keluarga di situ. Keluarga ini namanya Solambi. Solambi dengan isterinya dan anak2nya. Ada beberapa anaknya sudah kulia di Menado waktu itu. Ada yang masih di Palu, ada yang di situ. Mereka ini ada hubungan keluarga dengan isteri saya, dan waktu itu kakaknya isteri saya ada situ. Namanya Karel Pila. Tapi isteri saya ikut keluarga Mamuaya, orang Menado, untuk jaga anak2 kecil. Keluarga Mamuaya ini, lakinya kerja di PU atau di mana begitu, sedangkan isterinya guru. Isteri saya waktu itu sedang mau ujian di sekolah SMP Kristen di Poso. Kaki saya sudah mulai tidak bengkak lagi. Saya sudah bisa jalan2, dan saya sudah mau pulang ke kampung Tomata. Lalu pagi2, karena saya punya surat jalan dari Mojokerto belum pernah dilaporkan, saya pergi lapor di polisi. Saya pikir setelah lapor, saya akan berangkat. Setelah saya lapor, dia tanya, "Ini kenapa tidak dicap di Makasar?" Saya bilang, "Saya tidak sempat waktu itu." "Kenapa tidak dicap di Toraja?" "O, saya kan hanya lewat." "Kenapa tidak dicap di Palopo?" "Juga saya hanya lewat." "Wah, mungkin kau ini Komunis! O, ini pelarian Komunis dari Jawa." Saya bilang, "Tidak. Saya ini pendeta. Saya ini hamba Tuhan. Saya pelayan pekerjaan Tuhan." Ini, gini, gini, gini. "Mana surat2nya?" "Waduh, saya lupa! Ada di rumah." Ah, "Ambil dulu." Saya ambil, kantor sudah tutup, jadi besok pagi baru saya datang di kantor itu. Tapi malam itu saya berpikir, "Wah, jangan2 saya ditahan benar, besok saya tidak bisa pulang di kampung?" Ada keluarga kami kepala Sekolah SMP Kristen, namanya Langguna. Pagi2 sekali, sekitar 6:30, saya sudah datang di Sekolah SMP Kristen itu. Rumahnya di tingkat, di belakang. Tangganya lebar. Pada waktu saya naik, saya ketemu beberapa perempuan di situ--anak2 sekolah. Di situlah saya ketemu pertama dengan isteri saya. Namanya Widiami. Saya tanya, "Ada Pak Langguna?" "O, ada." Begitu saya naik, ketemu isteri Langguna. Dia bilang, "Kenal tidak? Itu dari kampung." "Yang mana?" Saya masih ingat sampai sekarang, dia pakai merah2 muda di atas, di bawah agak gelap. Itu saya ingat sampai sekarang (Juni 2001). Terus, "O, ya, ya, mana, mana?" "O, itu!" "Siapa namamu? Mari sini! E, salam dulu. Kau namanya siapa?" "Widiami." "Kau anaknya siapa?" "Anaknya Landawe." "O, kau sekolah di sini. Kelas berapa?" "Kelas tiga." "Mau ujian?" "Ia." "O, ia. Sudah." Ah, dia pergi, saya masuk di kamar ketemu Pak Langguna di kantornya. "Pak Langguna! O, salam pagi!" Ah, "Wah, mari Pak Mapa! Bagaimana ini kabarnya? Lama tidak jumpa!" ini-ini. "O, ya, ya, ya, ya. Apa kabarnya?" O, kabar ini segala macam omong, saya bilang begini, "Saya ini kesulitan. Saya punya pas itu di kantor polisi." Ah, "Saya bisa ambil tidak? Ini kira2 bagaimana?" "Pokoknya kau bisa buktikan kau bukan PKI, kau akan keluar dari kampung ini. Tapi kalau kau tidak bisa buktikan, kau tidak akan keluar." "Wah, celaka ini! Celaka, dih, kalau begini! Saya bukan. Bukan." "Ya, buktikanlah bahwa kau bukan PKI." "Ya, makanya kan saya tanya. You kan orang penting di sini, di Kota Poso. Bagaimana you arahkan saya." "Ya, okay." Setelah itu saya jalan kaki pergi ke kantor polisi. Di dalam perjalanan inilah muncul pikiran. "Wah, kalau itu tadi jadi isteri cocok sekali! Ah, COCOK benar ini kalau jadi isteri. Ah!" Polisi2nya lagi kerja bakti. Sampai di kantor polisi, omong, omong, omong, yang kemarin omong sama saya bawa senjata AK, dia lemparkan di depan saya sampai saya kaget. Wah! "O, Bapak! Waaah, jangan gitu, Pak!" Saya kan sudah biasa bicara. Rupanya mereka, polisi2 kampung ini, bicara kurang lancar, lalu kemarin mereka kurang puas, dia gertak saya dengan senjata. "O, Pak, jangan begitu!" "Mana surat2nya?" "O, ini-ini-ini-ini-ini!" "O, ya." Sudah dicap, dari situlah saya langsung kembali ke sekolah itu. Ah, "Mana itu tadi si Widiami?" "O, ada." Kami bicara di situ diKAWAL sama gurunya, jadi saya tidak bisa bicara cinta sama dia SAMASEKALI! Saya ceritera saja kiri-kanan, "ngalur-ngidul," kata orang Jawa. Di Jawa begini, begini, dan begitu. Setelah itu saya permisi. Saya mau pulang. Waktu saya turun dari tangga, dia ikut. Sampai di pintu gerbang pagar, saya bilang, "Kamu mau ujian?" "Ia." "Begini saja, ya: Kau ujian, selesai ujian kau naik, ya? Saya tidak pulang ke Jawa sebelum kau datang. Pokoknya saya tunggu kau." "Ya, okay-lah." Terus saya salaman, ya dia pergi. Saya tidak kasi uang. Memang saya juga tidak punya uang. Dia tidak ada apa2. Terus saya pulang. Sudah berapa hari perjalanan, sampai di Taliwan, sekitar lima kilometer dari Tomata. Ayah saya ada di Tomata, sedangkan Taliwan ini kampung orang pengungsi yang mengungsi dari selatan--orang Tabarano, orang Wawondula, orang Lioka, dsb. Saya tinggal di situ. Pada saya ada kiriman dari Makasar berupa surat, dan mungkin juga uang, untuk seorang Bapak bernama Tomaniga. Kiriman ini berasal dari anaknya, Dasande. Kebetulan ada teman saya bernama Malindu, saya bilang, "Malindu, tolong kita pergi ke rumahnya Tomaniga dulu. Kita mau bawa ini kiriman." "O, ya." Pada waktu kami sampai di rumah Tomaniga itu sudah soreh. Dia sedang bersihkan ikan dekat dapur. Rumah2 kami di sana kan rumah tingkat, jadi kami lihat dia ada sedang membersihkan ikan di atas. Saya berikan kirimannya, lalu saya duduk dengan Malindu. Diantara kami ada satu kursi kosong. Tengah kami berceritera, muncul satu oom yang datang duduk di antara saya dengan Malindu. Tantu, namanya. Ah, oom ini terus omong: "Kalau kalian datang di kampung begini, kawin; sebap di sini banyak gadis2 tertinggal. Tidak ada yang kawin sama mereka. Ini kalian pemuda2 sudah tinggalkan kampung, kalau di sini tidak kawin, terus pemudi2 sini siapa yang kawin sama mereka? Ketinggalan, kasihan!" "Anu, oom, kami tidak bisa tangkap seperti ayam langsung kami bawa!" "Ia, itu kan ada jalannya." Saya bilang, "Ada satu itu saya lihat di Poso. Oh, luar biasa! Waduh, kalau itu cocok benar kalau dijadikan isteri." "Namanya siapa?" "Namanya Widiami." "Oh, itu keponaan saya!" "Waduh, maaf Oom, maaf Oom! Wah, ini melanggar adat, saya! Tapi omongan saya ini kalau memang benar, saya tidak akan tarik kembali. Saya omong benar. Saya ini sudah cukup umur, benar2 saya mau cari isteri, ah, tapi saya belum ketemu bapak ini. Bagaimana nanti? Bapak musti ada." "O, bapak sama saya itu sama saja. Kami ini orang bersama2." Padahal Tantu ini kakaknya Landawe, sedangkan Landawe itu sudah meninggal. "Jadi urusan itu urusan saya sebagai kakak bapaknya." "O, baik. Kalau begitu, yah, terimakasih." Terus dia permisi. Dia bilang, "Saya mau masukkan ayam di kandang. Ini sudah mau malam." Sebap dia duda--tidak ada isterinya. "Saya mau kerja ini-ini. Saya mau bikin ini. Sapi saya mau masukkan kandang," dsb. "O, ia, ia, ia." Tinggalkan kami omong2 lagi sama Bapak Tomaniga. Terus kami pulang, saya ke Tomata, ketemu Bapak, ini, itu, dan bagaimana. Saya bilang, "Saya ini mau kawin, tapi minta doa restu dari Bapak. Saya sudah cari2, kok susah benar! Jadi perlu restu dari Bapak dan Ibu, bahwa saya ini sudah dewasa, saya mau kawin." "Kawin di sini saja. Ah, ini banyak calon di sini, sini, sini, sini." "Wah, kalau begini saya perlu memelih. Jangan saya dipilihkan, tapi saya memilih." "Boleh! Dipilihkan juga boleh, mau pilih sendiri boleh! Kawin di sini! Kamu kan laki2. Saya ini sudah siap selalu memberi sama orang. Sekarang saya mau terima--kamu yang kawin!" Sebap kalau laki2 kawin, orang tuah bikin pesta, orang datang memberi kepada dia yang berpesta kawin. Dan kalau laki2 yang kawin, harganya tinggi sekali. Ah, dia selalu menolong orang. Dia memberi ini sana, keluarga kawin, dia tolong, sana dia tolong. "Ah, sekarang AKU yang ditolong! Aku yang terima sekarang! Kawin! Kawin! Ya, okay. Nah, kalau mau dipilihkan, ini. Ada. Satu, dua, tiga. Ini guru2 ini.Mereka sudah mengajar." Begitu, begini. "Tidak. Ada satu yang saya lihat di Poso itu. Saya sudah bicara sama oomnya, Tantu." "O, ya, ya, ya! Kita tunggu saja." Ah, akhirnya tanggal satu Nopember calon isteri saya ini datang berjalan kaki sekian hari dari Poso baru sampai di kampung. Lalu tanggal lima lagi bapak saya sudah datang. Ya, biasa bapak saya ini kan bawa ini minuman SINARI tadi--minuman tuak yang sudah diaduk. Dia sudah bawa ini di kampung, pergi di Taliwan, di kampung pengungsi. Diasudah naik di rumah mamanya. Wah, keluarga belum kumpul, bagaimana nanti jawab ini bapak? Belum jawab, orang tuah sudah naik! O, baru mereka kumpul keluarga dari mamanya, keluarga dari bapaknya. "Ini kita musti jawab apa? Ini orang tuah sudah datang, sudah bawa minuman ini, mau minum2. Akhirnya, "Kita tanyakan sendiri sama dia." Wah, jadi di kampung juga kan banyak teman sana, teman sini, teman situ ketemu. Akhirnya dicari, ketemu, dibawa di dapur. "Ini orang tuah datang mau tanya kamu. Kamu mau tidak? Bagaimana ini?" "Wah! Bagaimana, yah? Saya ini mau sekolah." Saya kan tidak tahu. Jauh, saya. Bapak saya yang naik itu. Saya tidak tahu bapak saya kerja! Dia bilang, "Saya ini mau sekolah." Bapak saya bilang, "Di sana ada sekolah, kan. Nanti bisa sekolah di sana nanti. Di Jawa banyak sekolah." Akhirnya, "Ya, sudah. Atur sajalah. Terserah. Atur saja." "Kalau begitu, minang." "Kapan minangnya?" "Tanggal delapan." Jadi tanggal lima ditanya boleh dipinang tidak? Boleh. Tanggal delapan dipinang--tiga hari kemudian. Disiapkan peminangan. Jadi bapak saya potong sapi, terus dia punya lumbung yang tadinya padi tahun 1962 baru ditumbuk tahun 1967, sudah kuning2 itu padi, dan orang bilang, "Wah, ini orang kaya!" Kalau yang bisa simpan begitu orang kaya, katanya. Jadi bapak saya terangkat dia punya derajat bahwa anaknya pulang kawin di kampung, begitu. Dan dia senang sekali. Kemudian keluarga perempuan dan keluarga laki2 dikumpul, nanti makan2, ceritera ini-itu . . . Nanti tau2 ada satu orang tuah, dia mulai pakai pantun2, omong segala macam dengan segala cara2 manis, dia bicara dengan pantun ini, mungkin dia bilang, "Kami ada ayam jantan, di situ kami melihat ada ayam betina . . ." Atau dia bilang, "O, ada kambing atau domba atau apa." Dia pakai pelambang2. Ah, akhirnya nanti dia keluarkan satu bungkusan. Sudah di situ, bungkus terakhir nanti ada semacam benda yang berharga menurut adat. Terus nanti dikeluarkan ada cincin, ada kalung, ada apa, ada ini semua. Jadi dengan jalan itu keluarga di sana tahu kesanggupan/kemampuan daripada laki2. Jadi kalau dia keluarkan kalung, berarti tali kerbau, dia yang potong kerbau. Kalau dia keluarkan apa, berarti ini beras dia tanggung semua. Kan makan sekampung, ini orang. 300-400 orang dikasi makan satu hari untuk berpesta kawin! Makanya, kalau tidak mampu, bergotong-royong, misalnya lima pasang sekali kawin, jadi orang makan bagi2 kesana2, begitu. Tapi kalau mampu, satu kali beras sekian kwintal harus dimasak, babi harus dipotong sekian, ayam dipotong sekian, lembu musti dipotong sekian--makan satu kali. Camat diundang, kepala kampung nanti beri nasehat, semua tuah2 kampung beri nasehat, pergi gereja . . . Jadi waktu lamaran ini, ada seorang laki2 tuah dari keluarga mama saya bernama Topaxe yang keluarkan ini barang. Dia mulai hitung ini-ini-ini-ini diterima. Sudah diterima, okay! Topaxe yang bawa itu bungkusan, dan dia mulai hitung ini-ini. Setelah dihitung semua, "Ah, kapan kawinnya?" "Tanggal 24." Jadi tanggal satu Nopember datang, tanggal lima ditanya bagaimana kalau minang, tanggal delapan minang, tanggal 24 kawin. Jadi memang luar biasa. Dan selama semua ini berjalan, tidak pernah saya peluk bakal isteri saya. Soalnya pendeta2 Protestan punya mata2 terlalu banyak, jadi kalau kami pendeta Pantekosta buat sedikit salah saja, kami sudah dihukum, dan saya tidak mau dihukum dengan perkara itu. Ini kan tinggal beberapa hari saja. Kenapa saya musti melanggar adat lalu dihukum oleh mereka? Daripada dihukum, kan lebih baik kami sabar. Jadi kalau dia lahir tanggal 25 September 1950, ya, tahun 1967 kan baru 17 lebih sedikit! Saya 10 Pebruari 1937--sudah 31. Kawin tanggal 24, tanggal 1 Desember 1967 berangkat bawa isteri ke Jawa. Waktu itu kami berjalan kaki empat hari baru sampai di Mangkutana. Dalam rombongan kami ada enam orang. Kami bikin pondok tidur di hutan. Orang pada capek semua--kami bercintalah! Di hutan bikin pondok sendiri! Pagi2 sudah masak, makan pagi, sekitar setengah-lima kami sudah berjalan lagi. Dari Mangkutana ini baru dapat trek nanti untuk ke Palopo. Dari Palopo baru naik bis ke Makasar. Kami tiba di Mojokerto tanggal 21 Desember 1967. Dalam 100 hari perjalanan saya berhasil pulang dengan isteri! Sebenarnya bukan doa restu, tapi Tuhan memberkati dalam perkawinan itu. Bapak saya senang sekali, dan kami pulang ke Jawa juga dengan senang dan dengan baik. Dalam bulan April 1968, kami dipindahkan oleh pendeta kami dari Mojokerto ke Kertosono. Tanggal 22 Oktober 1968, lahirlah anak saya yang pertama, namanya Yusak. Yusak Setiabudi Maleta. Waktu itu kami sedang renovasi gereja--tukang2 bekerja. Pada soreh hari, tukang sudah pulang, isteri saya seperti mau melahirkan. Kami panggil bidan. Datang bidan di pastori, kami sendiri saja di situ dengan satu pengerja. Isteri saya terlentang di atas tempat tidur. Saya duduk di sampingnya. Dengan tangan kiri saya, saya mendukung kepalanya. Bidan tinggal di bagian kaki isteri saya untuk menjaga perutnya. Dengan tangan kanan saya pegang perut isteri saya, jangan anaknya naik ke atas. Ah, saya jaga, saya tahan di sini, untuk mengatur pernafasan di sini saya yang mengatur. Kami bikin teh hangat, kasi minum dia, dia sudah keringatan, ambil handuk kecil, di-lap,. "Sebentar. Tahan dulu. Tahan dulu. Sebentar lagi. Sebentar." "Aduh, sakit! Aduh, sakit!" "Tunggu sebentar-sebentar-sebentar! Tunggu dulu sebentar!" "Sekarang mulai. Dalam nama Yesus Kristus, mulai! Ayo! Satu, dua, tiga!" "Waduh, waduh!" (dengan mengejang). "Ngaeng! (bunyi anak keluar). "Luh! Laki2. Puji Tuhan, laki2!" begitu. Cepat sekali. Tidak terlalu lama: sebentar saja. Sekarang bidan yang potong puser, terus ari2 dikeluarkan, terus ada ferlak, ada kain2 kotor dan semua, saya bilang kepada bidan, "Ini urusan saya, 'Bu. Ibu punya urusan hanya untuk bayi ini, bagaimana caranya ibu untuk atur, ini Ibu punya atur. Semua kain kotor apa semua itu urusan saya. Saya yang bikin dia kotor, jadi saya harus tanggung-jawab ini kotor. Tidak boleh orang lain tanggung-jawab. Ini saya yang bikin dia begini." "Ah, kaki ini tidak boleh goyang delapan jam. Harus terlentang. Saya yang jaga." Tidak boleh tidur. Jaga ini kaki delapan jam. Sebap nanti kalau kaki keluar urat2, yang susah, saya. Kalau saya lihat, "Ini kenapa varises ini?" Jadi katanya delapan jam tidak boleh goyang setelah melahirkan supaya betisnya tetap bagus. Jadi begitulah saya musti jaga malam itu. Sampai pagi, saya sudah cuci2 ini semua pakaian, dsb, sedangkan bayinya urusan bidan. Besok pagi dia datang lagi, dia lihat, dsb. "Jadi untuk ganti pakaian isteri saya ini, ini urusan saya semua: bukan urusan Ibu. Ini urusan saya sebap saya yang bikin dia begini. Seandainya bukan saya, dia tidak begini--dia sehat baik2." Dan tukang2 yang bekerja tidak tahu kalau isteri saya melahirkan, sebap setelah delapan jam sudah bisa goyang kaki, sudah bisa turun dari tempat tidur, sudah bisa lihat2, dsb. Kalau menurut orang Jawa, ari2 kalau dibuang lebih baik daripada ditanam. Ini katanya karena kalau ari2nya dibuang, nanti esok-lusa anaknya bisa jalan2, bisa cari makan, dsb. Jadi dari empat anak saya, yang dua perempuan saya tanam, sedangkan yang dua laki2 saya buang; karena laki2lah yang harus keluar cari makan, dsb. Jadi ari2 anak pertama ini saya cuci dengan garam, saya lobangi, saya pecahkan sedikit, saya taruh di belanga kecil, lalu saya pergi membuangnya di Kali Berantas. tinggi 165cm berat 67-68kg kulit sawu matang